ini foto gue, ganteng-khan,,,

ini foto gue, ganteng-khan,,,
no coment,ya ?!

kalender

apakah weblog ini bagus?

Jumat, 31 Juli 2009

Whole Body Energy

Sesaat. hanya untuk sesaat. Kita coba pejamkan mata, lenturkan seluruh syaraf tubuh dan lepaskan semua rasa.

Kehampaan?

Ternyata TIDAK!

Yang kita rasakan bukanlah kehampaan, melainkan energi yang luar biasa hebat mengalir di seluruh permukaan tubuh kita.
Semakin kita berusaha menguasai kesadaran kita, semakin kuat pula aliran energi yang dapat kita rasakan.



Bifurkasi?

titik dimana kita merasakan kestabilan di dalam dan luar diri kita. Titik dimana kita menyeimbangkan semua unsur yang menyertai kita.



Kestabilan yang mengkristal. Titik menuju dua hal yang serba mungkin. Chaos dan Order. Kehancuran atau keteraturan.

Merasa Cukup

Merasa cukup itu baik, lho! Eh, entar dulu! Cukup pada hal apa dulu dong. Kalau merasa cukup dengan harta yang kita miliki, atau merasa cukup dengan satu istri( he…he..he) karena takut tidak bisa berlaku adil, atau merasa cukup untuk memelototi kesalahan diri tanpa melirik-lirik kesalahan orang lain itu sich namanya Qonaah(rasa cukup) yang benar. Namun akhir-akhir ini saya bertemu cukup banyak orang yang “merasa cukup” yang tidak pada tempatnya!

Seorang rekan teman guru berkeyakinan bahwa ia sudah merasa cukup dengan apa yang telah ia lakukan selama ini: datang ke sekolah, mengajar sesuai buku paket, menyampaikan materi dengan metode “nyerocos” dari hari ke hari….itu dan itu yang setiap hari ia lakukan. “Loh, itu kan memang tugas guru, tho?”, mungkin Anda berkata dalam hati. Iya sich, namun bila semua guru berpikiran sama dan merasa nyaman dalam “zona nyaman” mengajar seperti itu bisa kita bayangkan akibatnya dalam dunia pendidikan kita. Apalagi bila yang berpikir dengan pola yang sejenis adalah seorang kepala sekolah atau seorang pengelola lembaga pendidikan atau lebih tinggi lagi kepala dinas atau mentri pendidikan kita, waduh……parah dech!

Dan saya mencermati bahwa penyakit “merasa cukup” ini rentan menghinggapi sekolah-sekolah (Islam) unggulan yang sudah cukup “berumur”. Setelah mendapat predikat “trend setter, pelopor, pilot project, atau predikat sebangsanya, bisa menjadikan “nina bobo” bagi sekolah-sekolah tersebut. Ketika kita merasa sudah cukup, sudah baik dan terdepan maka di sinilah potensi muncul mandegnya kreativitas, inovasi dalam kiprah dan kinerja kita. Hal ini juga memicu semakin berkurangnya keberanian untuk mengambil resiko demi menapaki tangga kemajuan berikutnya.

Padahal, ketika kita mau melihat “dunia luar” di jaman globalisasi ini, kita akan semakin sadar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dalam hitungan detik! Inovasi-inoasi dalam dunia pendidikan selalu dan selalu hadir di hadapan kita. Ketika seorang guru mau keluar dari “zona nyamannya” dan mau sedikit melirik perkembangan metode-metode mengajar, filosofi dan inovasi kontemporer dalam duia pembelajaran, maka tak ayal lagi perubahan pola sikap guru dalam usaha mandirinya mengembangkan diri itu akan membawa pengaruh besar pada “dunia proses belajar-mengajar”secara umum. Tiap-tiap kelas akan merasakan hawa segar dalam proses belajar dengan diterapkannya metode-metode variatif yang kreatif dan inovatif disertai pendekatan yang lebih sesuai dengan psikologi anak didiknya. Wal hasil para siswa akan lebih merasa senang belajar dan tentu ini akan berdampak positif pada pencapaian mereka.

Arti penting peran guru ini pernah ditegaskan oleh mantan predsiden Amerika John F. Kennedy ketika menanggapi ketertinggalan Amerika dari Uni Soviet dalam teknologi penerbangan luar angkasanya waktu itu, ia langsung bertanya: “What’s wrong with our classes?”. Dari pertanyaan ini menggeliatlah pedidikan IPTEk Amerika hingga akhirnya di tahun 1969 Amerika sudah bisa mendaratkan para astronotnya di bulan.

Selanjutnya, jika para kepala sekolah dan pengelola lembaga pendidikan mampu untuk lebih “rakus” terhadap kemajuan pendidikan, maka mereka akan lebih bersifat terbuka terhadap perkembangan IPTEk. Ini akan berpengaruh pada kebijakannya dalam menanggapi perkembangan dunia pendidikan di luar lingkup sekolahnya dan tidak segan-segan mengalokasikan waktu dan dana untuk meng up- grade dan memobilisasikan SDM yang ada di lingkungannya menjemput kemajuan tersebut untuk diterapkan di lembaganya. Lebih lanjut mereka akan mampu mendelegasikan dan mengorganisasikan potensi SDM yang ada di lingkungannya dan menempatkan tiap-tiap personal pada keahliannya.

Maka, selayaknya kita harus berusaha untuk bisa menjadi “gelas-gelas” kosong yang mampu mengambil hikmah-pelajaran ilmu yang baru dari lingkungan sekitar kita, meski sekecil apa pun dan mungkin ilmu itu “hanya” dititipkan Alloh melalui rekan sejawat kita sendiri.

Dan perlu kita ingat bersama bahwa kita akan selalu berjalan di tengah masyarakat luas dunia pendidikan yang selalu bergerak dan berpacu untuk menjadi yang terbaik! Jika kita sudah “merasa cukup” dengan apa yang kita miliki sekarang, maka tidak mustahil kita akan ditinggalkan dan hanya akan berjalan terseok-seok mengejar ketertinggalan kita.

Bukankah Rasululloh selalu memacu kita untuk senantiasa menjadi lebih baik dari hari kemarin? Mengambil hikmah di mana pun dan kapan pun sebagai hak seorang Muslim yang terserak? Begitu jugalah dalam dunia pendidikan yang menjadi ladang dakwah kita dewasa ini.

Berubah untuk jadi lebih baik dan maju? SIAPA TAKUT!

Merasa Cukup

Merasa cukup itu baik, lho! Eh, entar dulu! Cukup pada hal apa dulu dong. Kalau merasa cukup dengan harta yang kita miliki, atau merasa cukup dengan satu istri( he…he..he) karena takut tidak bisa berlaku adil, atau merasa cukup untuk memelototi kesalahan diri tanpa melirik-lirik kesalahan orang lain itu sich namanya Qonaah(rasa cukup) yang benar. Namun akhir-akhir ini saya bertemu cukup banyak orang yang “merasa cukup” yang tidak pada tempatnya!

Seorang rekan teman guru berkeyakinan bahwa ia sudah merasa cukup dengan apa yang telah ia lakukan selama ini: datang ke sekolah, mengajar sesuai buku paket, menyampaikan materi dengan metode “nyerocos” dari hari ke hari….itu dan itu yang setiap hari ia lakukan. “Loh, itu kan memang tugas guru, tho?”, mungkin Anda berkata dalam hati. Iya sich, namun bila semua guru berpikiran sama dan merasa nyaman dalam “zona nyaman” mengajar seperti itu bisa kita bayangkan akibatnya dalam dunia pendidikan kita. Apalagi bila yang berpikir dengan pola yang sejenis adalah seorang kepala sekolah atau seorang pengelola lembaga pendidikan atau lebih tinggi lagi kepala dinas atau mentri pendidikan kita, waduh……parah dech!

Dan saya mencermati bahwa penyakit “merasa cukup” ini rentan menghinggapi sekolah-sekolah (Islam) unggulan yang sudah cukup “berumur”. Setelah mendapat predikat “trend setter, pelopor, pilot project, atau predikat sebangsanya, bisa menjadikan “nina bobo” bagi sekolah-sekolah tersebut. Ketika kita merasa sudah cukup, sudah baik dan terdepan maka di sinilah potensi muncul mandegnya kreativitas, inovasi dalam kiprah dan kinerja kita. Hal ini juga memicu semakin berkurangnya keberanian untuk mengambil resiko demi menapaki tangga kemajuan berikutnya.

Padahal, ketika kita mau melihat “dunia luar” di jaman globalisasi ini, kita akan semakin sadar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dalam hitungan detik! Inovasi-inoasi dalam dunia pendidikan selalu dan selalu hadir di hadapan kita. Ketika seorang guru mau keluar dari “zona nyamannya” dan mau sedikit melirik perkembangan metode-metode mengajar, filosofi dan inovasi kontemporer dalam duia pembelajaran, maka tak ayal lagi perubahan pola sikap guru dalam usaha mandirinya mengembangkan diri itu akan membawa pengaruh besar pada “dunia proses belajar-mengajar”secara umum. Tiap-tiap kelas akan merasakan hawa segar dalam proses belajar dengan diterapkannya metode-metode variatif yang kreatif dan inovatif disertai pendekatan yang lebih sesuai dengan psikologi anak didiknya. Wal hasil para siswa akan lebih merasa senang belajar dan tentu ini akan berdampak positif pada pencapaian mereka.

Arti penting peran guru ini pernah ditegaskan oleh mantan predsiden Amerika John F. Kennedy ketika menanggapi ketertinggalan Amerika dari Uni Soviet dalam teknologi penerbangan luar angkasanya waktu itu, ia langsung bertanya: “What’s wrong with our classes?”. Dari pertanyaan ini menggeliatlah pedidikan IPTEk Amerika hingga akhirnya di tahun 1969 Amerika sudah bisa mendaratkan para astronotnya di bulan.

Selanjutnya, jika para kepala sekolah dan pengelola lembaga pendidikan mampu untuk lebih “rakus” terhadap kemajuan pendidikan, maka mereka akan lebih bersifat terbuka terhadap perkembangan IPTEk. Ini akan berpengaruh pada kebijakannya dalam menanggapi perkembangan dunia pendidikan di luar lingkup sekolahnya dan tidak segan-segan mengalokasikan waktu dan dana untuk meng up- grade dan memobilisasikan SDM yang ada di lingkungannya menjemput kemajuan tersebut untuk diterapkan di lembaganya. Lebih lanjut mereka akan mampu mendelegasikan dan mengorganisasikan potensi SDM yang ada di lingkungannya dan menempatkan tiap-tiap personal pada keahliannya.

Maka, selayaknya kita harus berusaha untuk bisa menjadi “gelas-gelas” kosong yang mampu mengambil hikmah-pelajaran ilmu yang baru dari lingkungan sekitar kita, meski sekecil apa pun dan mungkin ilmu itu “hanya” dititipkan Alloh melalui rekan sejawat kita sendiri.

Dan perlu kita ingat bersama bahwa kita akan selalu berjalan di tengah masyarakat luas dunia pendidikan yang selalu bergerak dan berpacu untuk menjadi yang terbaik! Jika kita sudah “merasa cukup” dengan apa yang kita miliki sekarang, maka tidak mustahil kita akan ditinggalkan dan hanya akan berjalan terseok-seok mengejar ketertinggalan kita.

Bukankah Rasululloh selalu memacu kita untuk senantiasa menjadi lebih baik dari hari kemarin? Mengambil hikmah di mana pun dan kapan pun sebagai hak seorang Muslim yang terserak? Begitu jugalah dalam dunia pendidikan yang menjadi ladang dakwah kita dewasa ini.

Berubah untuk jadi lebih baik dan maju? SIAPA TAKUT!

Belajar dari “Mbah Tongah”

Mbah Tongah, demikian Beliau biasa dipanggil. Seorang wanita tua berumur tujuh puluhan tahun. Berbadan kecil dan pendek, namun tangan dan kakinya tampak begitu kuat. Maklum, Beliau adalah seorang tukang pijat di belakang rumahku. Beliau tinggal seorang diri di rumah papannya yang sederhana, karena beberapa tahun yang lalu suaminya telah berpulang dan Beliau tidak dikaruniai seorang anak pun!

Namun, dalam kesendiriannya, Beliau tampak tegar dan ikhlas menjalani hidup. Denga memberikan jasa pijat Beliau mampu menyambung hidupnya. Ada beberapa pelajaran yang memaksa saya bermuhasabah melihat sosok wanita “hebat” ini.

Mungkin Anda bertanya,”apa sih hebatnya seorang tukang pijat?”

Setiap pagi antara jam 2 dini hari, beliau sudah mandi dan langsung mengawali harinya dengan melakukan sholat tahajud dan dirangkai dengan wirid-wiridnya hingga saatnya Adzan Shubuh Beliau langsung berlali dengan tubuh mungilnya untuk menuju masjid berjamaah shubuh.

Kemudian, sebelum Beliau berangkat “dinas”, pasti Beliau sempatkan untuk melaksanakan sholat sunnah Dzuha, “Ben, berkah,Nduk!” kata Beliau suatu hari kepada saya. Wuih…sungguh istiqomahnya!

Satu hal lain yang saya harus belajar dari Beliau adalah kebiasaannya berinfaq membagikan masakannya kepada hampir semua tetangga di kanan-kiriku, yang kadang-kadang membuatku sungkan menerimanya!

Lain lagi ceritanya di hari Idul Adha yang lalu, dengan semangat saya bergegas membawakan sebungkus daging korban dari sekolah yang sebelum kuberikan untung sempat kubuka, karena dagingnya cuma sedikit dan lebih banyak tulangnya! Ketika kuberikan bingkisan itu Beliau langsung menghadiahiku semangkung gulai yang masih “kebul-kebu” yang langsung diambil dari panci yang masih di atas kompor, sambil berkata:”Nduk, iki tak wenehi masakanku, aku mau korban!”

Deg!Terhenyak aku mendengarnya, lalu aku bertanya;”Korban,Mbah?”"He..eh!”; jawab Beliau. Kulanjutkan menyelidik;” Regine pinten,Mbah, kambinge?”(berapa harga kambingnya,Mbah?)

“Wolung atus seket ewu!”(delapan ratus limapuluh ribu), kata Beliau!

Subhanalloh,aku terdiam sejenak! Lalu kuucap tasbih dan istighfar. Tasbih karena aku kagum dengan kesungguhan dan keikhlasan Bu Tongah dalam semangatnya berkorban. Bayangkan, berapa puluh kali memijat agar Beliau bisa membeli seekor kambing untuk berkorban? Kurang lebih 80 kali memijat, bila kita perkirakan!

Lalu kubandingkan dengan diriku sendiri! Mengapa aku belum bisa berkorban tahun ini? Padahal kalau aku punya sidqunniyyah, niat yang kokoh, pasti bisa kusisihkan uang untuk berkorban. Yah, masih lebih banyak yang lebih kudahulukan, kebutuhan untuk anak-anakku, untuk inilah, itu lah……..

Di akhir hari Tasyrik ini kembali aku renungkan semangat berkorban Mbah Tongah, seorang tukan pijat, yang darinya kudapatkan mutiara hikmah beramal dengan penuh kesederhanaan, tanpa retorika dan teori ke-Islaman yang panjang! Mungkinkah Beliau akan menjemput surganya…yang semakin tampak dekat di penghujung usia Beliau?

Wallohu a’lam bis showab.

Life

life is so miraculous
life is so amazing
but……sometimes
life is so mysterious
life is so unpredictable
life is so empty and silent…..
life……is full of enjoy but also sadness
life is a kind of sets of trials…..
from God
Alloh the Almighty

Life is Short

Have you watched an advertisement “life is short”?

I have been impressed with that advertisement. It showed a young woman who was about to give a birth in a birthing room surrounded by some doctors and other medical staffs helping them to give birth her baby. The woman was trying hard to take a deep breath helped with a respiration tool…and finally she succeeded in giving birth the baby. What makes me impressed was the next scene of the film that is: the new born baby was showed jumping and flying over the room out of the window and flying over the sky and it grew older became a child, then a boy and then an adult man and an old man…and then finally the old man fell down, crushed into his grave yard! And the advertisement was closed with a very wise utterance :”Life is short. Do more!”

I see the soul of Islamic teaching in this advertisement! Let’s recall some verses in the Holy Quran stating that our life on this earth is short and not eternal.

“Wa maa hayaataddunya illaa mataa’ul ghuruur” Life is nothing but a a kind of faking joy.

“Wal aakhirotu khoiruw wa abqo” And the Akhirat ( eternal life) is much better much more eternal.

“Wal aakhirotu khoirullaka minal uula” And the Akhirat is much better than the previous one!

So. Brothers and Sisters, if we have known that life on the earth now is “small” and “short” what should we do? Alloh, our God says in Quran Surah Al “Ashr that all of men are bankrupt except those who have strict faith and do good deeds and those who always remind others of good things ans suggest them for obedience.

And the essence of this teaching seems to be “summarized” in this advertisement! Well, le’t do our best in everything we do. let Alloh find us as successful servants before Him with our all good deeds we can create! AMIN (my own self contemplation)

Minggu, 07 Juni 2009

KESEMPATAN

Setiap hari yang Anda dan saya jalani adalah hadiah yang sangat indah dari Yang Maha Memiliki yang menjadikan keseluruhan kehidupan kita penuh dengan makna dan warna-warni kebahagiaan.

Untuk merasa bahagia, bingung, kecewa, sedih, atau marah adalah masalah keputusan. Bila Anda memutuskan untuk merasa berbahagia maka bahagialah Anda. Dengannya, kebahagiaan Anda adalah sebetulnya hasil dari ketepatan keputusan-keputusan Anda (MTST – Deciding To Be Happy).

Mohon Anda sadari bahwa perasaan-perasaan itu ada, dan kita sendiri yang dapat mencegah pikiran dan tindakan kita dari melakukan yang baik, tetapi kita juga dapat mendorong diri untuk lebih banyak melakukan kebaikan.

Itu sebabnya, jangan pernah menelantarkan perasaan Anda ke dalam sebuah perasaan yang sulit dimengerti oleh diri Anda sendiri dan orang lain.

Sadarilah bahwa ada sebuah mekanisme yang sedang mengamati sikap dan perilaku kita, Anda dan saya; yang setia melakukan penilaian, dan yang dengan tegas mendekatkan atau menjauhkan kita dari kualitas hidup yang kita impikan. (MTST – Fate).

Sehingga, ketika kita terjebak pada hari yang sama sekali tidak menyenangkan, mengerikan, tidak ada yang baik, dan sangat buruk, ... berilah hari itu kesempatan.

Karena kita tidak bisa lagi memiliki hari kemarin.

Anda dan saya pernah memiliki kenangan-kenangan di masa lalu. Ada di antara kita yang terjebak pada kenangan masa lalu yang menahan langkahnya dari meraih kesempatan-kesempatan yang paling memungkinkan bagi tercapainya kecemerlangan hidup, tetapi ada pula yang tetap melangkah dengan gagah dalam kepingan-kepingan bara semangat.

Anda harus menjadikan diri Anda sebagai pribadi yang sepenuhnya bertanggungjawab atas kualitas kehidupan Anda. Jangan mengeluhkan kehidupan yang sepertinya berlaku tidak cantik bagi kehidupan Anda.

Mohon Anda sadari bahwa mungkin ada orang lain yang memiliki perasaan yang sama bahkan lebih buruk dari yang Anda terima, tetapi lebih memperhatikan cara-cara yang mendamaikan kehidupannya.


Itu sebabnya, tanggungjawab kita adalah menjadikan hari ini lebih baik dengan pelajaran yang kita unduh dari kesalahan-kesalahan kita di masa lalu, dan menjadikan hari esok lebih menjanjikan karena kelebihan-kelebihan yang kita capai hari ini.

Karena kualitas motivasi kita adalah sebuah target bergerak, dan karena dalam dua hari – hari ini akan menjadi kemarin; maka tetaplah setia kepada cara-cara yang baik untuk berdamai dengan masa lalu Anda.

Sadarilah bahwa masa lalu Anda dibangun oleh urutan teratur dari berubahnya hari ini – menjadi kemarin, dan yang terjadi setiap hari; dan bahwa masa depan Anda datang mendekat dalam berubahnya hari esok – menjadi hari ini.

Maka bangunlah dan peliharalah semangat Anda, karena tidak ada apa pun di dunia ini yang berubah bentuk dan kekuatan – secepat perubahan perasaan kita. (MTMN – keberhasilan demikian dekat di lidah; tetapi bisa demikian jauh dari jangkauan)

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, tetapi kita memiliki pengalaman di masa lalu yang dapat menjadikan kita lebih baik di hari ini. Itu sebabnya, segera putuskan untuk hidup di hari ini dengan sepenuhnya, karena hari ini adalah hari yang terbaik untuk kita melangkah dalam pencapaian masa depan. Kita belum memiliki hari esok. Kita tidak bisa menjalani hari esok. Kita hanya memiliki hari ini.

Bekerja keraslah hari ini, dan ubahlah perasaan Anda dari yang perasaan-perasaan yang tidak menentu menjadi sebuah perasaan yang kegembiraannya dapat menyemangati Anda melangkah lebih damai menuju keberhasilan masa depan.

Orang-orang yang bekerja keras hari ini
dan memastikan bahwa yang dilakukannya hari ini pantas mendapat
penghargaan di masa depan,
akan bisa lebih senang nanti menyambut masa depan yang datang
dengan kualitas yang lebih baik.
( MT Star Point )

Apabila tahun 2008 adalah sebuah perjalanan, perjalanan kita akan mencapai bagian akhir.

Anda dan saya masih memiliki kesempatan yang akan kita pergunakan untuk melangkah maju di tahun depan.

Sejenak, kita melakukan evaluasi dan introspeksi diri : "Apakah kita masih dan akan terus berusaha untuk berjalan di jalur yang benar ?"

Belum terlambat bagi kita untuk memperbaiki hal-hal yang keliru ketika kita mulai sadar bahwa kita telah jauh berbelok dari tujuan kita.

Awal dari kehidupan kita – bukanlah rencana kita,
dan saat berakhirnya pun – bukan keputusan kita;
tetapi telah semakin jelas bagi kita bahwa tugas kita
adalah menjadikan waktu antara yang awal dan akhir itu,
sebagai sebuah perjalanan yang ter-indah
yang bisa kita capai dengan upaya kita,
dan dengan bantuan penuh kasih
dari Tangan Yang Tidak Terlihat itu.
( MT – Becoming is more important than Having )



catatan dari perjalanan jerman

perkembangan dan perubahan pendidikan tinggi di jerman, sedang terjadi migrasi dari sistem uni -dipl. ing dan sistem fh dipl.ing juga, dan doktor menjadi bsc-3-4 thn, ,master -2 thn dan doktor – 3 thn, ini karena kesepakatan bologna, dimana semua negara eu memakai sistem ini. hal ini harus menjadi perhatian kita yg ada di asean ..bgmn mengembangkan pendidikan tersebut, sehingga terjadi kesamaan sistem yg akan memudahkan mobilitas mahasiswa antar kampus antar negara.


2015 asean sdh menjadi suatu komunitas, dmana kemudahan 2 akan berdatangan di setiap negara, dan sdh siapkan sistem kita menyambut hal tersebut.
banyak hal yg harus kita siapkan.., sehingga bisa berjalan dgn mudah, salah satunya sistem pendidikan yg sama dan setara..sehingga lulusannya bisa bekerja dan belajar antar negara..bgt juga sekolahnya..seberapa banyak yg bisa kita siapakan sinergi antar sekolah..;
pada saat bicara di depan anggota parlemen cdu/csu di berlin, saya kemukakan bhw indonesia perlu meningkatkan sdm dosen dan guru dgn pendidikan master dan doktor utk dosen2 nya, dan alangkah baiknya bila bisa di biayai oleh ke dua negara dgn semangat sinergi lebih erat lagi utk masa mendatang.
kita mengusulakan 2000 dosen utk master dan doktor dalam 5 tahun yad, tapi proses masih panjang dan lama…tapi kita akan coba utk bersinergi dgn jerman….semoga…
di jerman sedang terjadi program internasionalisasi utk universitasnya serta peneliti dll nya…, hal ini klo bisa kita sambut menarik juga…semoga..
lebih dari 450 mhs jerman ke indonesia utk praktek serta kuliah singkat di indonesia, tapi masih lebih sedikit mhs indonesia yg ke jerman…ini hrs di buat seimbang dalam jangka panjang…
bila anda mempunya keingingan berkembang dan bergabung dgn cluster jerman, silahkan sinergi dgn seamolec , serta cek info di www.seamolec.org
program dual degree sedang kita siapkan bagi bbrp uni yg siap, dan akan kita ajak utk bersama seamolec utk bernegosiasi jurusan mana yg sdh siap dan di kembangkan juga pndidikan jarak jauhnya antar univ tersebut..
semoga bermanfaat………

Kamis, 07 Mei 2009

Rahasia Jenius Einstein

Meskipun anda bukanlah seorang jenius, anda dapat mengunakan strategi yang sama seperti yang digunakan Aristotle dan Einstein untuk memanfaatkan kreatifitas berpikir anda dan mengatur masa depan anda lebih baik.

Kedelapan statregi berikut ini dapat mendorong cara berpikir anda lebih produktif daripada reproduktif untuk memecahkan masalah-masalah. Strategi-strategi ini pada umumnya ditemui pada gaya berpikir bagi orang-orang yang jenius dan kreatif di ilmu pengetahuan, kesenian, dan industri-industri sepajang sejarah.

  1. Lihatlah persoalan anda dengan berbagai cara yang berbeda dan cari perspektif baru yang belum pernah dipakai oleh orang lain (atau belum diterbitkan!)
    Leonardo da Vinci percaya bahwa untuk menambah pengetahuan tentang suatu masalah dimulai dengan mempelajari cara menyusun ulang masalah tersebut dengan berbagai cara yang berbeda. Ia merasa bahwa pertama kali melihat masalah itu terlalu prubasangka. Seringkali, masalah itu dapat disusun ulang dan menjadi suatu masalah yang baru.
  2. Bayangkan!
    Ketika Einstein memikirkan suatu masalah, ia selalu menemukan bahwa perlu untuk merumuskan persoalannya dalam berbagai cara yang berbeda-beda yang masuk akal, termasuk menggunakan diagram-diagram. Ia membayangkan solusi-solusinya dan yakin bahwa kata-kata dan angka-angka tidak memegang peran penting dalam proses berpikirnya.
  3. Hasilkan! Karakteristik anak jenius yang membedakan adalah produktivitas.
    Thomas Edison memegang 1.093 paten. Dia memberikan jaminan produktivitas dengan memberikan ide-ide pada diri sendiri dan asistennya. Dalam studi dari 2.036 ilmuwan sepanjang sejarah, Dekan Keith Simonton, dari University of California di Davis, menemukan bahwa ilmuwan-ilmuwan yang dihormati tidak hanya menciptakan banyak karya-karya terkenal, tapi banyak yang buruk. Mereka tidak takut gagal, atau membuat kesalahan besar untuk meraih hasil yang hebat.
  4. Buat kombinasi-kombinasi baru. Kombinasikan, and kombinasikan ulang, ide-ide, bayangan-bayangan, and pikiran-pikiran ke dalam kombinasi yang berbeda, tidak peduli akan keanehan atau ketidakwajaran.
    Keturunan hukum-hukum yang menjadi dasar ilmu genetika modern berasal dari pendeta Austria, Grego Mendel, yang mengkombinasikan matematika dan biologi untuk menciptakan ilmu pengetahuan baru.
  5. Bentuklah hubungan-hubungan; buatlah hubungan antara peroalan-persoalan yang berbeda
    Da Vinci menemukan hubungan antara suara bel dan sebuah batu yang jatuh ke dalam air. Hal ini memungkinkan Da Vinci untuk membuat hubungan bahwa suara mengalir melalui gelombang-gelombang. Samuel Morse menciptakan stasiun-stasiun penghubung untuk tanda-tanda telegraf ketika memperhatikan stasiun-stasiun penghubung untuk kuda-kuda.
  6. Berpikir secara berlawanan.
    Ahli ilmu fisika Niels Bohr percaya bahwa jika andamemegang pertentangan secara bersamaan, kemudian anda menyingkirkan pikiran anda dan akal anda bergerak menuju tingkatan yang baru. Kemampuannya untuk membayangkan secara bersamaan mengenai suatu partikel dan suatu gelombang mengarah pada konsepsinya tentang prinsip saling melengkapi. Dengan menyingkirkan pikiran (logis) dapat memungkinkan akal anda untuk menciptakan sesuatu yang baru.
  7. Berpikir secara metafor.
    Aristotle menganggap metafora sebagai tanda yang jenius, dan percaya bahwa individual yang memiliki kapasitas untuk menerima persamaan antara dua keberadaan yang berbeda dan menghubungkannya adalah individual yang punya bakat kusus.
  8. Persiapkan diri anda untuk menghadapi kesempatan.
    Bilamana kita mencoba sesuatu dan gagal, kita akhirnya mengerjakan sesuatu yang lain. Hal ini adalah prinsip pertama dari kekreatifan. Kegagalan dapat menjadi produktif hanya jika kita tidak terfokus pada satu hal sebagai suatu hasil yang tidak produktif. Sebaliknya, menganalisa proses, komponen-kompnen dan bagaimana anda dapat mengubahnya untuk memperoleh hasil yang lain. Jangan bertanya, ?Mengapa saya gagal?? melainkan ?Apa yang telah saya lakukan??

Kejujuran

Nadirsyah Hosen
http://media. isnet.org/ isnet/Nadirsyah/ Jujur.html

Kejujuran, betapa langkanya kata ini!

Mencari orang yang jujur saat ini hampir sama mustahilnya denganmencari jarum di dalam tumpukan jerami. Jujur bukanlah semata-mata tidak berkata dusta. Ketika Nabi bersabda, “katakanlah kebenaran itu walupun pahit”, sebenarnya Nabi memerintahkan kita untuk berlaku jujur dengan lidah kita. Ketika Nabi bersabda, “andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya,” sesungguhnya Nabi mengajarkan kita untuk bertindak jujur dalam penegakkan hukum meskipun terhadap keluarga sendiri. Ketika Al-Qur’an merekam kalimat suci, “sampaikanlah amanat kepada yang berhak,” sesungguhnya Allah menyuruh kita bersikap jujur ketika memegang amanah, baik selaku dosen, pejabat, ataupun pengusaha. Sewaktu Allah menghancurkan harta si Karun karena Karun bersikukuh bahwa harta itu diraihnya karena kerja kerasnya semata, bukan karena anugerah Allah, sebenarnya Allah sedang memberi peringatan kepada kita bahwa itulah azab Allah terhadap mereka yang tidak
berlaku jujur akan rahmat Allah.

Tengoklah diri kita sekarang…. Masihkah tersedia kejujuran di dalam segala tindak tanduk kita? Ketika anda terima uang sogokan sebenarnya anda telah berlaku tidak jujur. Ketika anda enggan menolong rekan anda, meskipun anda sadar anda mampu menolongnya, saat itu anda telah menodai kejujuran.

Ketika di sebuah pengajian anda ditanya jama’ah sebuah pertanyaan yang sulit, dan anda tahu bahwa anda tak mampu menjawabnya, tapi anda jawab juga dengan “putar sana-sini”, maka anda telah melanggar sebuah kejujuran (orang kini menyebutnya “kejujuran ilmiah”).

Adakah orang jujur saat ini?

Bahkan Yudhistira yang dalam kisah Mahabharata terkenal jujur pun sempat berbohong dihadapan Resi Durna saat perang Bharata Yudha. Dewa dalam kisah tersebut menghukum Yudhistira dengan membenamkan roda keretanya ke dalam tanah beberapa senti. Anda boleh tak percaya cerita Mahabharata ini, tapi jangan bilang bahwa anda meragukan Allah mampu menghukum kita akibat ketidakjujuran kita dengan lebih dahsyat lagi. Kalau Dewa mampu menghukum Yudhistiraseperti itu, jangan-jangan Allah akan membenamkan seluruh yang kita banggakan ke dalam tanah hanya dalam kejapan mata saja.

Guru saya pernah bercerita ketika ada orang yg baru masuk Islam bertanya kepada Rasul bahwa ia belum mampu untuk mengikuti gerakan sholat dan kewajiban lainnya, konon, Rasul hanya memintanya untuk berlaku jujur. Ketika ada seorang warga negara Inggris yang masuk Islam, dan belum bisa sholat serta puasa, saya minta dia untuk berlaku jujur saja dahulu. Orang asing itu terperanjat. Boleh jadi dia kaget bahwa betapa Islam memandang tinggi nilai kejujuran. Kini, saya yang terperanjat dan terkaget-kaget menyaksikan perilaku kita semua yang sudah bisa sholat dan puasa namun tidak mampu berlaku jujur.

Duh Gusti….betapa jauh perilaku kami dari contoh yang diberikan Nabi-Mu…

mengubah tampilan face book

Bosan dengan tampilan facebook yang begitu-gitu saja tanpa variasi, tidak seperti friendster atau myspace yang bisa kita kostumisasi sesuai dengan kemauan kita. Kalau begitu coba yang satu ini, dengan cara ini kita dapat mengganti tampilan halaman facebook menjadi lebih bagus dan yang paling penting bisa dikostumisasi sendiri.

Aritkel ini saya buat untuk Anda yang suka dengan kostumisasi tampilan dan sekaligus memenuhi kebutuhan beberapa pengunjung yang menuju keblog ini melalui google dengan keyword tentang :
-cara mengganti layout facebook
-tutorial mengganti layout facebook
-merubah tampilan facebook
-mengubah tampilan facebook

Dan ternyata banyak sekali yang mencari artikrl tentang tampilan facebook. Setelah beberapa penelusuran website, blog dan group-group yang berisi tentang tutorial
mengganti layout facebook, saya menemukan 2 cara berbeda:

1. Merubah tampilan layout facebook dengan cara userstyles.org (untuk penguna mozila firefox)

-download add-ons mozzila

-klik “add to firefox”, installasi and restart mozilla firefox

-pilih tampilan yang diinginkan disini

-klik tombol “Load into Stylish”

-save dan refresh halaman facebook Anda


2. Merubah tampilan layout facebook dengan cara yontoo.com (untuk penguna mozila firefox dan internet explorer)

-kunjungi website Yontoo

-pilih “Start Installation”

-install Add-ons dan restart mozila

-pasang aplikasi PageRage di facebook

-pilih tampilan yang diinginkan

-lihat profile anda

Cara no.1 hanya bekerja pada komputer sendiri yang sudah diinstal add-on stylish
dan
Cara no.2 hanya bekerja pada pada komputer yang sudah diinstal add-on Yontoo dan pemilik facebook memasang aplikasi pagerege. Hal ini memungkinkan orang lai dapat melihat tampilan facebook kita jika mereka melakukan hal yang sama.

Sampai saat ini masih belum ada cara mengubah tampilan facebook untuk dilihat semua orang

Ingat Facebook tidak sama seperti Myspace/Friendster yang secara resmi dapat mengubah tampilannya sesuai dengan keinginan kita. Cara ini hanya akal-akalan dari pencipta add-on yang kreatif.

Sabtu, 14 Maret 2009

CINTA

BAGAIKAN SEMERBAK BUNGA YANG INDAH
MELUKISKAN KATA-KATA CINTA DIDALAM HATIKU
CINTA AMAT INDAH
SUNGGUH MENYENANGKAN YANG NAMANNYA CINTA

CINTA YANG ABADI ADALAH CINTAKU PADAMU
UNTUK SESEORANG YANG MENEMUKAN ROMEONYA
AKULAH PARA PEMBAWA CINTA
SANAGT TAK KUSANGKA KAU BERDUSTA

(by Dedi Gunawan Saputra)

perjslsnsn hidup.....

ketika orang panik…
ketika seorang wanita menangis…
ketika seorang laki - laki mondar mandir…
ketika para “malaikat ” berkeringat…
ketika itu dunia yang fana menyambut….
menanti kedatangan kita…

tidur pun akan terbangunkan…
sibuk pun akan terhentikan…
sakit pun akan terobati…
air mata pun akan terhapus…
hanya demi si buah hati…

hari demi hari telah berganti…
banyak hal yang telah terjadi…
suka…duka…
telah dilewati…
hanya do’a yang bisa aku berikan padamu…

ibu… bapak…
dimana jalan untuk membalas jasamu…
tunjukan jalan itu…
walaupun harus kutinggalkan dunia ini..
aku akan rela…

ibu… bapak…
jauh sudah negri orang aku tempuh…
belum juga kutemukan jalan itu…
akan kah dapat aku menemukannya…

hanya pada Allah aku berserah diri…
semoga Allah mengampuni kalian…
semoga surga firdaus tempat bagi mu…

aku tak akan pernah menyesal hidup…
aku akan terus mencari dan mencari…

ibu…bapak….I LOVE U ALL

-TANGIS LANGIT-

Rinai hujan menyapa gerai nada

Ingin kucaci rintik yang pantulkan silam

Dan kukembarakan rindu untuk gadis kecil yang kerap membungai mimpi

Pada terik siang sekalipun

Ada cinta tak berbatas untuknya

Kasih tanpa syarat dan pamrih

Perasaan hangat tanpa nama

Kurelakan satu sayapku untuknya

Kelak memeluknya dari gigil

Dan tempias hujan dini hari

Jangan bersedih, puteriku!

Meski Bunda tak ada tuk mengajarimu berkata-kata

Walau Bunda tak bisa menemanimu main sepeda

Namun, senantiasa Bunda kirimkan hadiah lewat doa

Agar kau selalu dalam lindungan-Nya,

Sebab yang Bunda tahu, Dialah sebaik-baiknya penjaga

Masih lekat dalam ingatan

Tatkala kau berceloteh sambil mengacungkan sebungkus kue

“Da da, ta ta…ta ta.”

Oh, “Bunda, buka buka!” itu kan yang ingin kau katakan?

Ah, betapa lucunya

Seperti baru sedetik lalu

Saat terpaksa kulihat tangan kecilmu melambai

Mengantar kepergianku

Benak kecilmu bertanya tak mengerti

Namun, tersenyumlah putriku!

Karena Bunda pasti kembali

Tuk menggenapkan sayapmu

Insyaallah…

Bunda pasti kembali…

Cinta

Sudahkah berkunjung ke dalam petak-petaknya?

Bagaimana rasanya?

Cinta

Akh, tak kuasa lagi menjabarkannya

Biarlah!

Biarlah kata itu sendiri yang menceritakannya pada Anda

Biarlah Sang Muara segala Cinta

Yang menunjukkan kepada Anda

Bagaimanakah cinta,

Sebenar-benarnya cinta…

Jumat, 13 Maret 2009

Belajar dari Bangsa Yahudi

Dalam tulisan ini dijelaskan bagaimana Orang Yahudi Israel dalam meningkatkan SDMnya, mungkin bisa menjadi motivasi. Namun yang menarik, semua kebiasaan mereka (Yahudi) yang dipaparkan di sini, hampir semuanya berakar dari ajaran Islam. Serasa disambar Gledek tulisan yang saya kutip dari milis Daarut Tauhid ini cukup menggelorakan jiwa. Apa iya? Ayo simak bersama…!

Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, “Mengapa Yahudi Pintar?” Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?
Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.
Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami. Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika. Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?”
Dia menjawab, “Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius.” Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya. Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan. Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai
jenis kacang-kacangan. Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan. Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),” ungkapnya.
Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam. Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk.
Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah. Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.
Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.
Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever). Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban.

Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar. Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi. Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !” katanya.
Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari.

Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara. Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius.

Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi. Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya.

Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta! Anda terperanjat? Itulah kenyataannya.
Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin? Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza. Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak.
Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran. Anak-anak yang sudah hafal 30 juz
Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. “Jika dalam usia
semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi
mereka akan jadi seperti apa?” demikian pemikiran yang berkembang di
pikiran orang-orang Yahudi. Tidak heran jika-anak Palestina menjadi
para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur’an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka.

Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah
penghafal Quran itu telah syahid. Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran.
Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia. Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya. Ambil contoh tetangga kita yang
terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal. Benarkah merokok dapat melahirkan generasi “Goblok!” kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini.

“Lihat saja Indonesia,” katanya seperti dalam tulisan itu. Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ 0.7 /bungkus !!! “Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Ditangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia? Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?”

Quote: “Jadilah kamu manusia yang saat kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis; dan pada waktu kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum”. (Mahatma Gandhi)

Petikan Wawancara Mario Teguh dengan SUFINEWS

Pak Mario, saat memberikan terapi atau memotivasi, di antara Ilmu Kejiwaan Barat dan Ilmu Kejiwaan dalam agama, mana yang anda gunakan?

Kalau Anda perhatikan penjelasan saya diatas, sebenarnya “peta” yang ada dalam Kecerdasan Emosional yang saya tawarkan merupakan gugusan pilar dari kebenaran, keindahan dan kebaikan. Hal ini didasari oleh fitrah kehidupan bahwa manusia dalam hidup itu tak lepas dari menginginkan kebaikan, menyukai keindahan dan mencari kebenaran. Tapi dalam realitas kehidupan, tiga hal ini lebih sering dirasakan oleh manusia sebagai tiga hal yang berdiri sendiri-sendiri. Misalnya kebenaran yang dicari ternyata malah membawa kepedihan, keindahan yang disukainya ternyata tidak membawa kebaikan, atau kebaikan yang diusahakan malah bertentangan dengan kebenaran. Pada saat yang demikian manusia tidak dapat menikmati keadaan itu secara sempurna lalu mengidap split personality atau kepribadian yang terpecah belah. Nah kira-kira melalui apa manusia dapat menemukan dan merasakan kebenaran, keindahan dan kebaikan sejati (haqiqi; red)? Dalam beragama bukan?!

Wah penjelasan Anda nyufi banget loh ?!

Ha…ha…ha…terimakasih, Mas. Tapi terus terang. Dalam menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun motivator) saya menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu mengindikasikan agama Islam secara formal atau verbal.

Kenapa ?

Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan “ya !” terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah; red) kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan lebel-lebel formal ketuhanan. Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien, menganjurkan yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran buruk, saya rasa ini semua pilihan orang-orang beriman. Itu alasan pertama.
Alasan kedua, Islam itu agama rahmat untuk semesta alam loch. Berislam itu mbok yang keren abis gitu loch ! Maksudnya jadi orang Islam mbok yang betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain. Agama kita itu sebagai agama terakhir dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Agama kita puncak kesempurnaan agama loch. Dan karenanya kita harus tampil sebagai pembawa berita bagi semua. Kita tidak perlu mengunggul-unggulka n agama kita yang memang sudah unggul dihadapan saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita. Bagaimana Islam bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan pemeluk) agama lain.

Apakah dalam pandangan Anda semua agama itu sama ?

Ha…ha…ha…ya jelas tidak sama toch, Mas. Tapi oleh Tuhan manusia diberi kebebasan memilih diantara ketidak samaan itu. Saya tidak akan mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat, tapi saya akan menunjukkan Windows Operating System yang dikeluarkan Microsof. Masih ada toch Mas orang yang masih menggunakan Windows 95? Masih ada juga kan orang yang menggunakan Windows 98 atau Windows 2000? Dan Anda sendiri sekarang menggunakan Windows XP kan?. Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, Mas. Ada versi-versi yang sesuai untuk zamannya, untuk kelengkapan fikiran di zaman itu dan disana ada jenis kemampuan masing-masing orang dalam menyikapinya. Masak Anda mau memaksa orang lain untuk memakai XP pada orang yang kemampuannya cuma sebatas memiliki Windows 95? Tidak toch!? Alangkah indahnya kalau semua orang Islam ketika bicara dapat diterima semua pemeluk agama lain.

Contohnya seperti apa pembicaraan yang dapat diterima semua pemeluk agama ?

“Anda adalah direktur utama dari perusahaan jasa milik Anda sendiri. Anda adalah CEO dari kehidupan Anda sendiri. Anda sebenarnya, sepenuhnya bertanggungjawab atas bisnis kehidupan Anda dan apapun yang akan terjadi pada diri Anda sendiri. Anda bertanggungjawab atas semuanya antara lain, produksi, pemasaran, keuangan, RND dan lain sebagainya diperusahaan kehidupan Anda. Demikian pula Anda sendirilah yang menentukan berapa besar gaji Anda, berapa income Anda. Bila Anda tidak puas dengan penghasilan yang Anda terima, Anda bisa melihat didekat cermin Anda dan menegosiasikan pada bos Anda, yakni Anda sendiri yang ada didalam cermin,” begitu kira-kira. Nah, menurut saya etos demikian tak dapat dibantah oleh semua ajaran agama-agama yang ada didunia.

Apa yang anda contohkan bukan malah menujukkan bahwa manusia adalah segala-segalanya. Terkesan, seolah-olah Tuhan tak memiliki peran apa-apa disana ?

Di atas saya mengatakan bahwa alasan kita tersenyum di pagi hari kepada isteri dan anak-anak, menyambut mereka dengan santun, berusaha datang tepat waktu untuk memenuhi janji, itu semua bukan semata-mata karena didasari atas kesantunan kita sebagai manusia, melainkan kita ingin mengabdi kepada-Nya. Begitu juga dengan contoh barusan, itu sebenarnya merupakan cermin atas pesan agama yang meminta totalitas kita dalam menjalankan sebuah amanah.. Apalagi jika kita bicara tentang “cermin”, akan sangat panjang pembicaraan kita. Dan setiap spirit tidak selalu harus ada embel-embel nama surat atau ayat dari kitab suci tertentu. Bukankah seorang jenderal paling ateis pun ketika melepaskan pasukannya ke medan perang tak dapat menghindarkan diri dari ucapan, “Semoga kalian sukses!”. Kalimat “Semoga” disitu menyimpan harapan campur tangan kekuatan dari Yang Maha Kuat. Biarlah Tuhan menjadi sesuatu yang tersembunyi dikedalaman relung hati kita yang paling dalam.

Apa arti sukses menurut anda ?

Perjalanan 50 tahun hidup yang sudah saya jalani menyimpulkan bahwa sukses itu tidak selalu berarti mendapat piala atau pujian, meski tak ada salahnya jika kita mendapatkan keduanya. Hanya saja itu semua bukan kriteria dari sukses itu sendiri. Karenanya tak jarang orang kemudian sulit menemukan kesuksesan-kesukses an yang pernah diraihnya.
Secara sederhana sukses adalah bagaimana kita keluar dari comfort zone kita dan mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan definisi ini Anda akan melihat begitu banyak kesuksesan yang bisa Anda lihat pada diri Anda. Kalau kemarin Anda baru bisa membantu satu orang, hari ini Anda bisa membantu dua dan besok Anda bisa membantu lebih banyak lagi, maka anda sukses. Dengan perasaan yang positif mengenai kesuksesan yang pernah Anda raih, maka Anda akan merasa semakin sukses dan semakin percaya diri dengan cita-cita, visi dan misi hidup Anda.
Saya sangat tidak setuju dengan ungkapan, “Biarlah kita sekarang susah, asal nanti kita sukses”. Ini jelas enggak pernah bakal sukses. Saya bertanya, dimana anak tangganya? Bukankah untuk meraih kesuksesan besar harus diawali dengan kesuksesan kecil dan sedang?. Ada pepatah yang mengatakan, “Sukses akan melahirkan sukses yang lain.” Nah dari pepatah ini dapat diambil pelajaran, apabila kita semakin mudah untuk melihat kesuksesan kita dari hal-hal yang kecil, maka mudah bagi kita untuk mengumpulkan, mengakumulasikan dan melangkah mencapai sukses yang lebih besar. Percaya dech, dengan sukses kecil-kecil itu, cepat atau lambat sukses yang lebih besar akan menjemput Anda.

Penjelasan Anda mengingatkan saya akan nasehat Sufi Besar, Imam Ibnu ‘Atha’illah, yang mengatakan, “Tanamkanlah ujudmu dalam bumi yang sunyi sepi, karena sesuatu yang tumbuh dari benda yang belum ditanam, tidak sempurna hasilnya.” Pertanyaannya, bagaimana memupuk rasa rendah hati dalam diri kita ?

O, ya ? Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memupuk kerendahan hati diantaranya adalah dengan menyadari kembali bahwa seluruh yang kita punyai adalah anugerah-Nya, berkah-Nya atau rahmat-Nya. Karenanya katakan pada diri sendiri, “Aku masih ingin belajar”, “Aku masih ingin mendapatkan input dari sekelilingku” , “Aku masih ingin mendapatkan pengetahuan- pengetahuan dari mana saja agar dapat lebih baik”.

“Aku masih ingin belajar”, “Aku masih ingin mendapatkan input dari sekelilingku” , “Aku masih ingin mendapatkan pengetahuan- pengetahuan dari mana saja agar dapat lebih baik”. Jika ditilik dari kehidupan kita, umat Islam, nampaknya metode memupuk kerendahan hati yang Anda sampaikan masih menjadi problem besar tersendiri ya ?

Persis seperti yang saya perhatikan selama ini. Saudara-saudara kita sesama muslim masih terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan bergaul hanya pada lingkungannya sendiri. Malah yang lebih memprihatikan, dengan sesama muslim kalau ngundang pembicara dia tanya dulu, “Orang itu madzhabnya apa ?.” Dia tidak akan menerima orang yang tidak satu madzhab, satu aliran, dengannya. Padahal dinegara-negara maju sudah menjadi pemandangan yang biasa orang-orang Yahudi mengundang pembicara Islam, Hindu atau Kristiani, atau sebaliknya.
Mereka sudah mantap dengan iman mereka sehingga mereka tidak khawatir dengan pembicara yang datang dari luar komunitas mereka. Mereka sangat yakin, bahwa dengan cara demikian (menghadirkan pembicara “orang luar”), mereka dapat memperkaya wacana dan kehangatan batin. Kita, atau persisnya sebagian umat Islam, lupa bahwa salah satu cara mensyukuri perbedaan ditunjukkan bukan pada lisan akan tetapi dengan mendengarkan pendapat orang lain yang beda keyakinan agamanya.

Anda punya pengalaman keberislaman Anda yang inclusive itu?

Iya. Pernah beberapa peserta saya mengklaim materi yang baru saja selesai saya sampaikan menurut sudut pandang keyakinan agama mereka. Seorang peserta yang beragama Kristiani mengatakan bahwa materi saya ada juga di ajarkan dalam Injil. Peserta lain yang beragama Islam mengaku bahwa materi yang saya sampaikan ada di Al-Quran surat al-Maidah. Peserta yang Budha menganggap bahwa materi saya itu penerapan dari Dharma-dharma Budha. Saya hanya mengembalikan semua apresiasi itu kepada-Nya.

Pengalaman lain ?

Masih banyak orang yang salah faham terhadap Islam. Ada satu pengalaman yang mengherankan sekaligus membuat saya prihatin. Dalam satu seminar di acara coffee break isteri saya didatangi salah seorang peserta penganut agama Kristen yang taat. Masih kepada isteri saya, orang itu memberi komentar bahwa saya menerapkan ajaran Injil dengan baik. Lalu dengan lembut, penuh kehati-hatian, isteri saya memberitahu bahwa saya seorang muslim. Sontak orang itu terperanjat saat mengetahui bahwa saya seorang muslim. Yang membuat isteri saya (dan kemudian juga saya) prihatin adalah ucapannya, “Loch, koq ada ya orang Islam yang baik macam Pak Mario !?” Saya pun terkekeh mendengarnya. Nah ini kritik dan sekaligus menjadi tugas kita semua untuk memperbaiki citra Islam.

Sabtu, 21 Februari 2009

TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa- mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “ApakahTuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.
“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.
“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor.

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?”
Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -46′F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas”.

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak.
Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau
gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.

Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya
kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.

Siapakah sang Mahasiswa? Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

++++++++++++ +++++++++ +++++

Quote: “Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, hidup di tepi jalan dan dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah.” (Abu Bakar Sibli)

SALAM SUPER MARIO TEGUH

Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan
bila anda sedang takut, jangan terlalu takut.
Karena keseimbangan sikap adalah penentu
ketepatan perjalanan kesuksesan anda

Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita
adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba
itulah kita menemukan dan belajar membangun
kesempatan untuk berhasil

Anda hanya dekat dengan mereka yang anda
sukai. Dan seringkali anda menghindari orang
yang tidak tidak anda sukai, padahal dari dialah
Anda akan mengenal sudut pandang yang baru

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi
pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus
belajar, akan menjadi pemilik masa depan

Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi
pencapaian kecemerlangan hidup yang di
idamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa
kesenangan adalah cara gembira menuju
kegagalan

Jangan menolak perubahan hanya karena anda
takut kehilangan yang telah dimiliki, karena
dengannya anda merendahkan nilai yang bisa
anda capai melalui perubahan itu

Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila
anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara
lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila
cara-cara anda baru

Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan.
Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap
anda tepat, dan tidak ada yang bisa menolong
bila sikap anda salah

Orang lanjut usia yang berorientasi pada
kesempatan adalah orang muda yang tidak
pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi
pada keamanan, telah menua sejak muda

Hanya orang takut yang bisa berani, karena
keberanian adalah melakukan sesuatu yang
ditakutinya. Maka, bila merasa takut, anda akan
punya kesempatan untuk bersikap berani

Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan
stress adalah kemampuan memilih pikiran yang
tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang
anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.

Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui
mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan
tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan
yang kemudian anda dapat

Seseorang yang menolak memperbarui cara-cara
kerjanya yang tidak lagi menghasilkan, berlaku
seperti orang yang terus memeras jerami untuk
mendapatkan santan

Bila anda belum menemkan pekerjaan yang sesuai
dengan bakat anda, bakatilah apapun pekerjaan
anda sekarang. Anda akan tampil secemerlang
yang berbakat

Kita lebih menghormati orang miskin yang berani
daripada orang kaya yang penakut. Karena
sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa
depan yang akan mereka capai

Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita
ketahui, kapankah kita akan mendapat
pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum
kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan

Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin.
Dengan mencoba sesuatu yang tidak
mungkin,anda akan bisa mencapai yang terbaik
dari yang mungkin anda capai.

Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup
adalah membiarkan pikiran yang cemerlang
menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang
mendahulukan istirahat sebelum lelah.

Bila anda mencari uang, anda akan dipaksa
mengupayakan pelayanan yang terbaik.
Tetapi jika anda mengutamakan pelayanan yang
baik, maka andalah yang akan dicari uang

Waktu ,mengubah semua hal, kecuali kita. Kita
mungkin menua dengan berjalanannya waktu,
tetapi belum tentu membijak. Kita-lah yang harus
mengubah diri kita sendiri

Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk
melakukan sesuatu yang baik. Jangan menjadi
orang tua yang masih melakukan sesuatu yang
seharusnya dilakukan saat muda.

Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat
berharga. Memilik waktu tidak menjadikan kita
kaya, tetapi menggunakannya dengan baik
adalah sumber dari semua kekayaan

Kamis, 12 Februari 2009

cita-cita, keinginan dan obsesi

“Apa cita-citamu…?” Iseng-iseng saya tanya anak sulung saya.
“Cita-cita…..? Ehm…. Nggak tahu, eh….pilot! Eh…bukan…pemain sepakbola!” jawabnya. Mendengar jawabannya saya tahu bahwa ia asal jawab saja. Bagaimana mungkin ia bercita-cita jadi pilot jika ia tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada profesi tersebut dan keterkaitannya? Ia mungkin menikmati bepergian dengan pesawat dan mengasosiasikannya dengan itu. Bagaimana mungkin pula ia bercita-cita jadi pemain sepakbola jika dalam ekstra-kurikuler di sekolahnya, dengan tubuhnya yang kecil, ia bahkan tidak pernah dipasang untuk bermain. Ia selalu hanya kebagian sebagai ‘anak gawang’ yang tugasnya disuruh-suruh untuk membantu para pemain dalam tim. Saya sering mengoloknya untuk itu meski saya sebenarnya sadar bahwa itu tidak baik bagi self esteemnya. Tapi kadang-kadang saya sulit mengendalikan keinginan jail saya untuk mengolok-ngolok anak saya. Ini mungkin penyakit ‘kampungan’ yang saya bawa sejak kecil dan sulit untuk saya sembuhkan.
Meski demikian nampaknya anak saya sudah ‘kebal’ dan tidak seberapa terpengaruh dengan olok-olok saya. Buktinya ia masih juga bercita-cita jadi pemain bola meski kami sama-sama tahu bahwa itu sekedar asbun alias asal bunyi. Belakangan ia bilang pingin jadi anak band dan ia memulai ‘karir’nya dengan berdandan ala anak band. Paling tidak cita-citanya sudah mulai diwujudkan dengan gayanya dululah! Gaya dulu, kompetensi belakangan.

Beberapa waktu sebelumnya saya memang sudah pernah menanyainya mengenai cita-cita ini dan jawabannya juga sama yaitu ‘tidak tahu’ dan belum terpikirkan’. Jawabannya tersebut membuat saya ‘gumun’ alias heran. Kok ya sama dengan saya dulu, tidak punya cita-cita dan selalu glagapan kalau ditanya soal cita-cita! ‘Emangnya semua orang harus punya cita-cita?’ Demikian pikir saya waktu itu. ‘Apa ndak ‘kemelipen’ (terlalu tinggi) kalau saya punya cita-cita? Lha wong makan sehari-hari saja susah kok mikir tentang cita-cita mau jadi dokter, guru, insinyur, tentara, dll’. (kalau yang terakhir saya emoh-emoh tenanan. Jadi tentara itu ‘out of question’ bagi saya).
‘Cita-cita itu kan ‘mainan’nya orang-orang kaya. Orang miskin kayak saya itu mbok ya yang realistis alias sadar diri gitu lho!’ Demikian pikir saya waktu itu. Dan sekarang ternyata anak saya juga tidak punya cita-cita. Kok bisa ya? Padahal sekarang kan bapaknya ini sudah jadi ‘orang’ dan mau makan berapa kali pun tidak masalah. Tapi kok anak saya cita-cita juga belum punya! Belum berhakkah kami untuk sekedar punya cita-cita? Ihik!

Bukannya saya tidak punya keinginan menjadi ‘apa’ pada waktu kecil dulu. Tapi keinginan saya menjadi ‘apa’ dulu itu bergantung pada situasi dan kondisi. Kalau saya sedang baca buku-bukunya Karl May maka cita-cita saya ya jadi Winnetou atau menggantikannya menjadi ketua suku Apache. Paling tidak ya suku Sioux lah! (‘Sioux’ itu bacanya ‘sou’ dan bukan ‘siok’. Kalau ‘Siok’ itu nama tetangga saya yang keturunan Cina). Kalau saat itu yang saya baca adalah seri pengembaraannya di Timur Tengah maka saya ingin jadi Effendi sambil membayangkan nikmatnya naik unta di tengah terik matahari di padang pasir. Jadi cita-cita saya bisa jadi Deni si Manusia Ikan, Tarzan si Raja Rimba, Suma Han si Pendekar Super Sakti, Marcopolo si pengelana dunia, sampai jadi ketua partai Kaypang. Sesekali saya bercita-cita jadi Umar bin Chattab, Zatoichi, atau Shalahuddin Al Ayyubi. Jadi cita-cita saya itu menjadi ‘siapa’ dan bukan ‘apa’.

Suatu ketika ayah saya pernah bercerita pada ibu saya bahwa ia pernah ditawari untuk menjadi ini dan itu di kantornya tapi beliau menolak. Adik saya yang waktu itu masih kecil betul dan kebetulan mendengar ini langsung saja nyletuk, :”Kenapa Bapak nggak milih jadi Superman saja? Kan enak Pak bisa terbang kesana kemari dan nggak mati-mati.” Saya yang mendengarnya tentu saja tertawa ngakak. ‘Apa enaknya jadi Superman?’, pikir saya. ‘Pakai celana dalam saja keliru dipakai di luar’. Itulah sebabnya anak-anak sebaiknya tidak boleh ada di dekat orang tua kalau mereka sedang ngomong serius. Mereka suka nyletuk tanpa juntrungan.

Ketika di SMA saya mulai punya cita-cita beneran. Karena keseringan membaca buku-buku tentang petualangan saya jadi terobsesi untuk bertualang kesana kemari. Jadi saya berpikir alangkah enaknya kalau saya jadi wartawan. Dengan jadi wartawan saya akan pergi kemana-mana untuk meliput berita dan menyampaikannya pada pembaca saya. Saya paling suka membaca kolom petulangannya Pak Tanzil (kalau tidak salah) dengan istrinya yang jago masak di Intisari di berbagai belahan dunia dan berkhayal bisa melakukan hal yang sama. Wartawan juga nampak hebat di mata saya karena mereka berhasil membongkar fakta-fakta yang tidak nampak oleh orang kebanyakan. Mungkin saya terinspirasi oleh Bob Woodward yang berhasil membongkar “Watergate” itu.

Tapi saya juga pingin menjadi guide karena saya suka belajar bahasa Inggris dan dengan jadi guide tentunya bahasa Inggris saya akan terasah. Kan wisatawan asing kebanyakan menggunakan bahasa asing. Lagipula jadi guide tentu menyenangkan karena bisa melancong kemana-mana. Pokoknya tidak jauh dari itu lah!

Belakangan saya mulai tertarik untuk menjadi psikolog karena saya suka memperhatikan bagaimana manusia bertindak dan berprilaku. Saya ingin tahu apa yang melatarbelakangi seseorang melakukan apa yang ia kerjakan dan bagaimana mereka membangun persepsi atas sesuatu. Tapi ya itu, kalau ditanya saya tetap tidak bisa menjawab dengan jelas apa sebenarnya cita-cita saya.
Jadi guru? Bah! Tidak sama sekali terlintas di benak saya untuk menjadi guru meski sebenarnya kedua orang tua saya sebelumnya berprofesi jadi guru cukup lama. Soalnya tak satupun guru sekolah yang mampu memberi kesan yang mendalam pada saya. Satu-satunya guru yang saya anggap hebat adalah gurunya Helen Keller dan sampai sekarang masih tetap membuat saya terkagum-kagum. Orang kok bisa begitu sabar menghadapi murid yang cacat macam Helen Keller dan mampu membuatnya menjadi begitu hebat. Tapi karena saya tahu bahwa saya tidak (akan) punya kesabaran dan keahlian seperti itu maka profesi guru tidak pernah masuk dalam angan-angan saya.

Kalau kemudian saya menjadi guru maka itu sungguh merupakan ‘kecelakaan’. Saya jadi ingat Katherine Schulten yang menulis buku “Tak Sengaja Menjadi Guru” dan merasa melihat diri saya sendiri membaca alasannya mengapa ia tak ingin menjadi guru. Saya sendiri tidak pernah berminat untuk menjadi guru meski pada akhirnya menikmati profesi tersebut.

Setelah menjadi guru saya bercita-cita bisa menjadi guru yang baik. Saya tahu tak mudah menjadi guru yang baik. Kalau jadi guru yang brengsek dan tidak bertanggung jawab mudah saja karena mudah ditemui di mana-mana.
Saya tidak tahu apakah saya berhasil menjadi guru yang baik atau tidak karena tidak ada penilaian untuk itu. Kalau berdasarkan penilaian untuk kenaikan pangkat sih kayaknya begitu tapi semua guru nampaknya memperoleh penilaian baik karena tak ada kepala sekolah yang benar-benar menggunakan format penilaian tersebut untuk menilai baik tidaknya seseorang menjadi guru atau tidak. Yang penting adalah loyalitas. Kalau nggak loyal ya bisa terhambat karier kita. Dan saya mengalaminya pada tahun 80-an ketika diminta (dipaksa ding!) untuk menjadi anggota Golkar dan saya menolak.
Bukan apa, saya hanya ingin menjadi seorang guru yang baik dan guru yang baik semestinya tidak berpihak pada partai politik tertentu. Ia harus netral dan tidak berpihak. Ia bukan mengabdi pada pemerintah tapi pada negara. Begitu berdasarkan apa yang saya baca di buku-buku. Susahnya, bos-bos saya di Depdiknas waktu itu tidak bisa membedakan antara ‘pemerintah’ dan ‘negara’! Bagi mereka negara itu identik dengan pemerntah. Yo wislah!
Tapi itu mungkin karena saya yang kelewat naif dan punya bakat pemberontak macam Kahar Muzakkar. Kata atasan saya di Depdikbud Golkar itu bukan partai (tapi golongan!) dan saya termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih. Makan diberi Golkar tapi tidak mau loyal, katanya. Mana mau saya terima argumentasi begitu. Maka saya pun bertengkar dengan banyak orang sampai ke Dinas Pendidikan Propinsi. Karena saya tetap bersikeras tidak ingin masuk Golkar saya akhirnya di’non-edukatif’kan dan ditempatkan di kecamatan sebagai staf dikcam tanpa tugas apalagi posisi. Karir saya di PNS dilipat gara-gara bercita-cita jadi guru yang baik. Ihik..! Tapi saya merasa seperti Napoleon Bonaparte yang dikucilkan ke pulau Elba. Hahaha….!
Tapi itu tidak menyurutkan cita-cita saya untuk menjadi guru yang baik. Tanpa jadi PNS saya tetap bisa jadi guru yang baik, pikir saya. Dan saya pun jadi ‘ronin’
Dengan mengajar di berbagai tempat dan mendirikan bimbingan belajar di Surabaya. Bimbingan belajar tersebut bahkan pernah memiliki cabang di lima kota di Jatim. Saya berusaha untuk menjadi guru yang baik bagi siswa-siswa saya dengan berusaha menjadi teman dan mentor bagi mereka. Kalau ciri guru yang baik itu ditandai dengan akrabnya siswa kepada gurunya maka mungkin saya bisa masuk nominasi karena rumah saya tidak pernah sepi dari kedatangan mereka. Selalu saja ada siswa yang datang ke rumah untuk bertemu atau benar-benar untuk curhat.

Apakah saya sudah berhasil mencapai cita-cita saya? Nehi! Bimbingan belajar tidak memuaskan saya karena saya anggap sebagai ‘pseudo-education’ lha wong cuma melatih siswa untuk menyiasati soal-soal tes masuk kok.
Ketika ada lowongan untuk menjadi guru di sekolah internasional di Bontang saya dengan cepat melamar dan berangkat ke Jakarta untuk ikut test. Ini suatu petulangan baru bagi saya. Cita-cita saya untuk bisa memperbaiki bahasa Inggris saya dengan kumpul langsung sama native speaker akan dapat kesampaian kalau ngajar di international school. Sejak pertama mendaftar saya sudah yakin betul bahwa saya akan diterima dan akan tinggal di Bontang.

Ketika mengajar di Bontang International School saya sempat keliling ke beberapa daerah di tanah air dan merasa bersyukur bahwa cita-cita saya untuk bertualang di Nusantara dapat kesampaian. Saya juga bergaul dengan orang asing dan memperoleh keuntungan dalam bahasa karenanya. Satu demi satu cita-cita saya kesampaian.
Sebenarnya pada awal mengajar saya sempat stress karena perbedaan sistem pendidikan pada sekolah asing dan sempat shock gara-gara siswa saya dengan santainya bilang,:”Booooring…!” ketika saya mengajar. Edhian! Selama ini saya merasa sebagai guru yang baik dan selalu disukai oleh siswa-siswa saya, eh! lha kok disini saya di’sio-sio’ begini sama anak-anak bule ini, demikian pikir saya. Ternyata memang tidak mudah mengajar di sekolah internasional karena sistemnya memang berbeda dengan pengetahuan dan pengalaman saya selama ini.
Saya habis-habisan belajar dan mengubah metoda pengajaran saya dan setelah bertahun-tahun belajar dan bekerja keras pada akhirnya saya berhasil dianggap sebagai guru favorit oleh mereka. Saya tahu ketika hasil akreditasi langsung dari WASC Amerika disampaikan. Resepnya, pokoknya tiap hari siswa saya ajak bermain lha wong mereka nggak mau kalau diajar dengan pendekatan tradisional. Saking manjanya mereka sering minta saya gendong dan peluk. Maklum, murid saya rata-rata Pre-K dan elementary.

Tapi di sekolah internasional inilah yang membuat mata saya melek. Ternyata sistem pendidikan nasional kita sangat jauuuuuh ketinggalan dengan apa yang dilakukan di sekolah-sekolah international. Apa yang kita lakukan di sekolah-sekolah kita sungguh sangat konvensional dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh sekolah-sekolah di luar negeri. Setiap tahun kami dikirim untuk mengikuti konferensi guru tingkat internasional bersama dengan guru-guru dari berbagai negara. Semakin lama semakin sadar saya bahwa Indonesia memang sangat ketinggalan di bidang pendidikan dibandingkan dengan negara-negara lain, meski untuk tingkat ASEAN.
Ini seperti hantaman di kepala saya.

Pendidikan kita rasanya konvensional betul dan CBSA (Catat Buku Sampai Abis) merupakan praktek yang ‘legal’ dan bahkan paling favorit di sekolah-sekolah kita. Bagaimana mungkin kita bisa mengejar ketertinggalan pendidikan kita dengan pola tradisional seperti ini? Saya merasa bahwa saya harus melakukan sesuatu dan dorongan itu semakin lama semakin kuat.
Akhirnya saya putuskan untuk keluar dari sekolah internasional dan membuka sekolah sendiri. Saya bercita-cita untuk membuat sebuah sekolah yang modern dan mendekati praktek sekolah-sekolah internasional yang pernah saya lihat.

Itu sepuluh tahun yang lalu.

Apakah saya berhasil mencapai cita-cita saya? Tidak, eh, belum ding! Masih jauh dari harapan. Meski sekolah saya berkembang mulai dari SMP sampai perti tapi cita-cita untuk memiliki sekolah yang berkualitas macam sekolah internasional rasanya masih sangat jauuuuuuhh. Banyak hal yang membuat saya tidak bisa mencapai cita-cita tersebut tapi kelemahan terbesar, menurut saya, adalah karena rendahnya kualitas guru yang ada. Guru yang hebat yang jumlahnya memang sangat sedikit sudah dipakai di sekolah-sekolah swasta mahal dan sekolah saya yang sejak awal memang dirancang untuk membantu kalangan menengah bawah tidak mampu membayar mereka.
Kenapa tidak melatih sendiri? Saya tidak punya cukup kapasitas untuk itu. Rendahnya kualitas guru adalah masalah nasional dan untuk menyelesaikannya juga harus berskala nasional. Itu bukan pekerjaan satu dua orang tapi harus merupakan kerja banyak pihak. Harus ada upaya nyata untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru secara nasional.

Jadi saya mendirikan Klub Guru Indonesia.

Klub Guru berkembang pesat dan disambut dengan antusias dimana-mana. Asumsi saya bahwa setiap orang sebetulnya perduli pada masalah pendidikan terbukti. Tak ada pihak yang menolak ketika diajak untuk membantu atau bekerjasama dengan Klub Guru. Semua ingin melakukan sesuatu bagi guru dan bagi pendidikan. Pendidikan adalah harapan terbesar bagi hampir semua orang. Story goes on…!

Cita-cita saya berhenti disitu?
Ternyata Klub Guru justru baru merupakan awal!

Rendahnya minat baca bangsa Indonesia dan berbagai masalah yang mengikutinya telah lama saya ketahui dan fakta ini semakin hari semakin membuat saya seperti duduk di atas bara api. Semua statistik seperti memusuhi Indonesia. Beberapa hari yang lalu kolom Tajuk di Kompas menulis betapa dalam penerbitan buku kita bahkan kalah dengan Vietnam yang baru merdeka tersebut. Vietnam yang penduduknya cuma 80 jutaan ternyata mampu menerbitkan sekitar 15.000 judul buku sedangkan Indonesia yang penduduknya berjumlah 230 juta hanya mampu menerbitkan sekitar 8.000 judul! Pukulan apalagi yang kita butuhkan untuk membangunkan kita? Kita harus melakukan sesuatu! Tidak ada gunanya cuma mengomel.
Jadi saya ajak semua pihak untuk melakukan sebuah gerakan untuk membuat bangsa Indonesia memiliki minat dan budaya baca. Kami namakan gerakan tersebut GERAKAN INDONESIA MEMBACA. Gerakan ini harus menjadi gerakan yang menasional, melibatkan semua orang dan berjangka panjang. Saya ingin mengetuk pintu semua orang untuk mengajak mereka MEMBACA… MEMBACA… dan MEMBACA…!
Sekarang gerakan ini bukan lagi keinginan tapi telah menjadi OBSESI saya. Kalau mau tahu rasanya terobsesi adalah jika kita menginginkan sesuatu sebegitu dan itu kita pikirkan sejak kita membuka mata di pagi hari sampai kita memejamkan mata malam harinya. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Pikiran kita penuh dengan apa yang kita inginkan tersebut. Itu namanya TEROBSESI.

Jadi jika suatu hari ada orang yang mengetuk pintu Anda dan mengajak Anda untuk membaca (atau untuk menyumbang.buku bagi anak-anak di desa terpencil agar mereka bisa membaca buku bacaan gratis ) maka itu mungkin saya (atau orang yang bergabung dalam gerakan ini). Jangan sampai Anda bilang tidak punya uang untuk menyumbang. Anda akan mengecewakan jutaan anak yang tidak mampu memiliki buku bacaan untuk dibaca. Mereka adalah anak-anak kita juga.

Satria Dharma
Balikpapan, 6 Februari 2009

Kamis, 05 Februari 2009

Jejek Sepatu Karet

Jejak Sepatu di Karpet

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih dan bersih dan teratur, suami serta anak2nya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:

‘Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan’

Ibu itu kemudian menutup matanya.

‘Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?’ Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; ‘Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi’.

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

‘Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu meli hat jejak sepatu & kotoran disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu’.

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

‘Sekarang bukalah mata ibu’ Ibu itu membuka matanya ‘Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?’ Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. ‘Aku tahu maksud anda’ ujar sang ibu, ‘Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif’.

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’ sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;

1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain

2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe.

3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan

4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi

5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman

6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan

7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras

8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat

9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup

10. Untuk setiap permasalahan hidup yang saya hadapi, karena itu artinya Tuhan sedang membentuk dan menempa saya untuk menjadi lebih baik lagi

daduku

daduku

inilah gambarmu di cermin

inilah gambarmu di cermin

ini kucingku :

ini kucingku :

apik ra,,,?!

apik ra,,,?!

apik ra,,,?!

apik ra,,,?!