ini foto gue, ganteng-khan,,,

ini foto gue, ganteng-khan,,,
no coment,ya ?!

kalender

apakah weblog ini bagus?

Jumat, 31 Juli 2009

Belajar dari “Mbah Tongah”

Mbah Tongah, demikian Beliau biasa dipanggil. Seorang wanita tua berumur tujuh puluhan tahun. Berbadan kecil dan pendek, namun tangan dan kakinya tampak begitu kuat. Maklum, Beliau adalah seorang tukang pijat di belakang rumahku. Beliau tinggal seorang diri di rumah papannya yang sederhana, karena beberapa tahun yang lalu suaminya telah berpulang dan Beliau tidak dikaruniai seorang anak pun!

Namun, dalam kesendiriannya, Beliau tampak tegar dan ikhlas menjalani hidup. Denga memberikan jasa pijat Beliau mampu menyambung hidupnya. Ada beberapa pelajaran yang memaksa saya bermuhasabah melihat sosok wanita “hebat” ini.

Mungkin Anda bertanya,”apa sih hebatnya seorang tukang pijat?”

Setiap pagi antara jam 2 dini hari, beliau sudah mandi dan langsung mengawali harinya dengan melakukan sholat tahajud dan dirangkai dengan wirid-wiridnya hingga saatnya Adzan Shubuh Beliau langsung berlali dengan tubuh mungilnya untuk menuju masjid berjamaah shubuh.

Kemudian, sebelum Beliau berangkat “dinas”, pasti Beliau sempatkan untuk melaksanakan sholat sunnah Dzuha, “Ben, berkah,Nduk!” kata Beliau suatu hari kepada saya. Wuih…sungguh istiqomahnya!

Satu hal lain yang saya harus belajar dari Beliau adalah kebiasaannya berinfaq membagikan masakannya kepada hampir semua tetangga di kanan-kiriku, yang kadang-kadang membuatku sungkan menerimanya!

Lain lagi ceritanya di hari Idul Adha yang lalu, dengan semangat saya bergegas membawakan sebungkus daging korban dari sekolah yang sebelum kuberikan untung sempat kubuka, karena dagingnya cuma sedikit dan lebih banyak tulangnya! Ketika kuberikan bingkisan itu Beliau langsung menghadiahiku semangkung gulai yang masih “kebul-kebu” yang langsung diambil dari panci yang masih di atas kompor, sambil berkata:”Nduk, iki tak wenehi masakanku, aku mau korban!”

Deg!Terhenyak aku mendengarnya, lalu aku bertanya;”Korban,Mbah?”"He..eh!”; jawab Beliau. Kulanjutkan menyelidik;” Regine pinten,Mbah, kambinge?”(berapa harga kambingnya,Mbah?)

“Wolung atus seket ewu!”(delapan ratus limapuluh ribu), kata Beliau!

Subhanalloh,aku terdiam sejenak! Lalu kuucap tasbih dan istighfar. Tasbih karena aku kagum dengan kesungguhan dan keikhlasan Bu Tongah dalam semangatnya berkorban. Bayangkan, berapa puluh kali memijat agar Beliau bisa membeli seekor kambing untuk berkorban? Kurang lebih 80 kali memijat, bila kita perkirakan!

Lalu kubandingkan dengan diriku sendiri! Mengapa aku belum bisa berkorban tahun ini? Padahal kalau aku punya sidqunniyyah, niat yang kokoh, pasti bisa kusisihkan uang untuk berkorban. Yah, masih lebih banyak yang lebih kudahulukan, kebutuhan untuk anak-anakku, untuk inilah, itu lah……..

Di akhir hari Tasyrik ini kembali aku renungkan semangat berkorban Mbah Tongah, seorang tukan pijat, yang darinya kudapatkan mutiara hikmah beramal dengan penuh kesederhanaan, tanpa retorika dan teori ke-Islaman yang panjang! Mungkinkah Beliau akan menjemput surganya…yang semakin tampak dekat di penghujung usia Beliau?

Wallohu a’lam bis showab.

Tidak ada komentar:

daduku

daduku

inilah gambarmu di cermin

inilah gambarmu di cermin

ini kucingku :

ini kucingku :

apik ra,,,?!

apik ra,,,?!

apik ra,,,?!

apik ra,,,?!