Merasa cukup itu baik, lho! Eh, entar dulu! Cukup pada hal apa dulu dong. Kalau merasa cukup dengan harta yang kita miliki, atau merasa cukup dengan satu istri( he…he..he) karena takut tidak bisa berlaku adil, atau merasa cukup untuk memelototi kesalahan diri tanpa melirik-lirik kesalahan orang lain itu sich namanya Qonaah(rasa cukup) yang benar. Namun akhir-akhir ini saya bertemu cukup banyak orang yang “merasa cukup” yang tidak pada tempatnya!
Seorang rekan teman guru berkeyakinan bahwa ia sudah merasa cukup dengan apa yang telah ia lakukan selama ini: datang ke sekolah, mengajar sesuai buku paket, menyampaikan materi dengan metode “nyerocos” dari hari ke hari….itu dan itu yang setiap hari ia lakukan. “Loh, itu kan memang tugas guru, tho?”, mungkin Anda berkata dalam hati. Iya sich, namun bila semua guru berpikiran sama dan merasa nyaman dalam “zona nyaman” mengajar seperti itu bisa kita bayangkan akibatnya dalam dunia pendidikan kita. Apalagi bila yang berpikir dengan pola yang sejenis adalah seorang kepala sekolah atau seorang pengelola lembaga pendidikan atau lebih tinggi lagi kepala dinas atau mentri pendidikan kita, waduh……parah dech!
Dan saya mencermati bahwa penyakit “merasa cukup” ini rentan menghinggapi sekolah-sekolah (Islam) unggulan yang sudah cukup “berumur”. Setelah mendapat predikat “trend setter, pelopor, pilot project, atau predikat sebangsanya, bisa menjadikan “nina bobo” bagi sekolah-sekolah tersebut. Ketika kita merasa sudah cukup, sudah baik dan terdepan maka di sinilah potensi muncul mandegnya kreativitas, inovasi dalam kiprah dan kinerja kita. Hal ini juga memicu semakin berkurangnya keberanian untuk mengambil resiko demi menapaki tangga kemajuan berikutnya.
Padahal, ketika kita mau melihat “dunia luar” di jaman globalisasi ini, kita akan semakin sadar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dalam hitungan detik! Inovasi-inoasi dalam dunia pendidikan selalu dan selalu hadir di hadapan kita. Ketika seorang guru mau keluar dari “zona nyamannya” dan mau sedikit melirik perkembangan metode-metode mengajar, filosofi dan inovasi kontemporer dalam duia pembelajaran, maka tak ayal lagi perubahan pola sikap guru dalam usaha mandirinya mengembangkan diri itu akan membawa pengaruh besar pada “dunia proses belajar-mengajar”secara umum. Tiap-tiap kelas akan merasakan hawa segar dalam proses belajar dengan diterapkannya metode-metode variatif yang kreatif dan inovatif disertai pendekatan yang lebih sesuai dengan psikologi anak didiknya. Wal hasil para siswa akan lebih merasa senang belajar dan tentu ini akan berdampak positif pada pencapaian mereka.
Arti penting peran guru ini pernah ditegaskan oleh mantan predsiden Amerika John F. Kennedy ketika menanggapi ketertinggalan Amerika dari Uni Soviet dalam teknologi penerbangan luar angkasanya waktu itu, ia langsung bertanya: “What’s wrong with our classes?”. Dari pertanyaan ini menggeliatlah pedidikan IPTEk Amerika hingga akhirnya di tahun 1969 Amerika sudah bisa mendaratkan para astronotnya di bulan.
Selanjutnya, jika para kepala sekolah dan pengelola lembaga pendidikan mampu untuk lebih “rakus” terhadap kemajuan pendidikan, maka mereka akan lebih bersifat terbuka terhadap perkembangan IPTEk. Ini akan berpengaruh pada kebijakannya dalam menanggapi perkembangan dunia pendidikan di luar lingkup sekolahnya dan tidak segan-segan mengalokasikan waktu dan dana untuk meng up- grade dan memobilisasikan SDM yang ada di lingkungannya menjemput kemajuan tersebut untuk diterapkan di lembaganya. Lebih lanjut mereka akan mampu mendelegasikan dan mengorganisasikan potensi SDM yang ada di lingkungannya dan menempatkan tiap-tiap personal pada keahliannya.
Maka, selayaknya kita harus berusaha untuk bisa menjadi “gelas-gelas” kosong yang mampu mengambil hikmah-pelajaran ilmu yang baru dari lingkungan sekitar kita, meski sekecil apa pun dan mungkin ilmu itu “hanya” dititipkan Alloh melalui rekan sejawat kita sendiri.
Dan perlu kita ingat bersama bahwa kita akan selalu berjalan di tengah masyarakat luas dunia pendidikan yang selalu bergerak dan berpacu untuk menjadi yang terbaik! Jika kita sudah “merasa cukup” dengan apa yang kita miliki sekarang, maka tidak mustahil kita akan ditinggalkan dan hanya akan berjalan terseok-seok mengejar ketertinggalan kita.
Bukankah Rasululloh selalu memacu kita untuk senantiasa menjadi lebih baik dari hari kemarin? Mengambil hikmah di mana pun dan kapan pun sebagai hak seorang Muslim yang terserak? Begitu jugalah dalam dunia pendidikan yang menjadi ladang dakwah kita dewasa ini.
Berubah untuk jadi lebih baik dan maju? SIAPA TAKUT!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar