ini foto gue, ganteng-khan,,,

ini foto gue, ganteng-khan,,,
no coment,ya ?!

kalender

apakah weblog ini bagus?

Jumat, 31 Juli 2009

Whole Body Energy

Sesaat. hanya untuk sesaat. Kita coba pejamkan mata, lenturkan seluruh syaraf tubuh dan lepaskan semua rasa.

Kehampaan?

Ternyata TIDAK!

Yang kita rasakan bukanlah kehampaan, melainkan energi yang luar biasa hebat mengalir di seluruh permukaan tubuh kita.
Semakin kita berusaha menguasai kesadaran kita, semakin kuat pula aliran energi yang dapat kita rasakan.



Bifurkasi?

titik dimana kita merasakan kestabilan di dalam dan luar diri kita. Titik dimana kita menyeimbangkan semua unsur yang menyertai kita.



Kestabilan yang mengkristal. Titik menuju dua hal yang serba mungkin. Chaos dan Order. Kehancuran atau keteraturan.

Merasa Cukup

Merasa cukup itu baik, lho! Eh, entar dulu! Cukup pada hal apa dulu dong. Kalau merasa cukup dengan harta yang kita miliki, atau merasa cukup dengan satu istri( he…he..he) karena takut tidak bisa berlaku adil, atau merasa cukup untuk memelototi kesalahan diri tanpa melirik-lirik kesalahan orang lain itu sich namanya Qonaah(rasa cukup) yang benar. Namun akhir-akhir ini saya bertemu cukup banyak orang yang “merasa cukup” yang tidak pada tempatnya!

Seorang rekan teman guru berkeyakinan bahwa ia sudah merasa cukup dengan apa yang telah ia lakukan selama ini: datang ke sekolah, mengajar sesuai buku paket, menyampaikan materi dengan metode “nyerocos” dari hari ke hari….itu dan itu yang setiap hari ia lakukan. “Loh, itu kan memang tugas guru, tho?”, mungkin Anda berkata dalam hati. Iya sich, namun bila semua guru berpikiran sama dan merasa nyaman dalam “zona nyaman” mengajar seperti itu bisa kita bayangkan akibatnya dalam dunia pendidikan kita. Apalagi bila yang berpikir dengan pola yang sejenis adalah seorang kepala sekolah atau seorang pengelola lembaga pendidikan atau lebih tinggi lagi kepala dinas atau mentri pendidikan kita, waduh……parah dech!

Dan saya mencermati bahwa penyakit “merasa cukup” ini rentan menghinggapi sekolah-sekolah (Islam) unggulan yang sudah cukup “berumur”. Setelah mendapat predikat “trend setter, pelopor, pilot project, atau predikat sebangsanya, bisa menjadikan “nina bobo” bagi sekolah-sekolah tersebut. Ketika kita merasa sudah cukup, sudah baik dan terdepan maka di sinilah potensi muncul mandegnya kreativitas, inovasi dalam kiprah dan kinerja kita. Hal ini juga memicu semakin berkurangnya keberanian untuk mengambil resiko demi menapaki tangga kemajuan berikutnya.

Padahal, ketika kita mau melihat “dunia luar” di jaman globalisasi ini, kita akan semakin sadar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dalam hitungan detik! Inovasi-inoasi dalam dunia pendidikan selalu dan selalu hadir di hadapan kita. Ketika seorang guru mau keluar dari “zona nyamannya” dan mau sedikit melirik perkembangan metode-metode mengajar, filosofi dan inovasi kontemporer dalam duia pembelajaran, maka tak ayal lagi perubahan pola sikap guru dalam usaha mandirinya mengembangkan diri itu akan membawa pengaruh besar pada “dunia proses belajar-mengajar”secara umum. Tiap-tiap kelas akan merasakan hawa segar dalam proses belajar dengan diterapkannya metode-metode variatif yang kreatif dan inovatif disertai pendekatan yang lebih sesuai dengan psikologi anak didiknya. Wal hasil para siswa akan lebih merasa senang belajar dan tentu ini akan berdampak positif pada pencapaian mereka.

Arti penting peran guru ini pernah ditegaskan oleh mantan predsiden Amerika John F. Kennedy ketika menanggapi ketertinggalan Amerika dari Uni Soviet dalam teknologi penerbangan luar angkasanya waktu itu, ia langsung bertanya: “What’s wrong with our classes?”. Dari pertanyaan ini menggeliatlah pedidikan IPTEk Amerika hingga akhirnya di tahun 1969 Amerika sudah bisa mendaratkan para astronotnya di bulan.

Selanjutnya, jika para kepala sekolah dan pengelola lembaga pendidikan mampu untuk lebih “rakus” terhadap kemajuan pendidikan, maka mereka akan lebih bersifat terbuka terhadap perkembangan IPTEk. Ini akan berpengaruh pada kebijakannya dalam menanggapi perkembangan dunia pendidikan di luar lingkup sekolahnya dan tidak segan-segan mengalokasikan waktu dan dana untuk meng up- grade dan memobilisasikan SDM yang ada di lingkungannya menjemput kemajuan tersebut untuk diterapkan di lembaganya. Lebih lanjut mereka akan mampu mendelegasikan dan mengorganisasikan potensi SDM yang ada di lingkungannya dan menempatkan tiap-tiap personal pada keahliannya.

Maka, selayaknya kita harus berusaha untuk bisa menjadi “gelas-gelas” kosong yang mampu mengambil hikmah-pelajaran ilmu yang baru dari lingkungan sekitar kita, meski sekecil apa pun dan mungkin ilmu itu “hanya” dititipkan Alloh melalui rekan sejawat kita sendiri.

Dan perlu kita ingat bersama bahwa kita akan selalu berjalan di tengah masyarakat luas dunia pendidikan yang selalu bergerak dan berpacu untuk menjadi yang terbaik! Jika kita sudah “merasa cukup” dengan apa yang kita miliki sekarang, maka tidak mustahil kita akan ditinggalkan dan hanya akan berjalan terseok-seok mengejar ketertinggalan kita.

Bukankah Rasululloh selalu memacu kita untuk senantiasa menjadi lebih baik dari hari kemarin? Mengambil hikmah di mana pun dan kapan pun sebagai hak seorang Muslim yang terserak? Begitu jugalah dalam dunia pendidikan yang menjadi ladang dakwah kita dewasa ini.

Berubah untuk jadi lebih baik dan maju? SIAPA TAKUT!

Merasa Cukup

Merasa cukup itu baik, lho! Eh, entar dulu! Cukup pada hal apa dulu dong. Kalau merasa cukup dengan harta yang kita miliki, atau merasa cukup dengan satu istri( he…he..he) karena takut tidak bisa berlaku adil, atau merasa cukup untuk memelototi kesalahan diri tanpa melirik-lirik kesalahan orang lain itu sich namanya Qonaah(rasa cukup) yang benar. Namun akhir-akhir ini saya bertemu cukup banyak orang yang “merasa cukup” yang tidak pada tempatnya!

Seorang rekan teman guru berkeyakinan bahwa ia sudah merasa cukup dengan apa yang telah ia lakukan selama ini: datang ke sekolah, mengajar sesuai buku paket, menyampaikan materi dengan metode “nyerocos” dari hari ke hari….itu dan itu yang setiap hari ia lakukan. “Loh, itu kan memang tugas guru, tho?”, mungkin Anda berkata dalam hati. Iya sich, namun bila semua guru berpikiran sama dan merasa nyaman dalam “zona nyaman” mengajar seperti itu bisa kita bayangkan akibatnya dalam dunia pendidikan kita. Apalagi bila yang berpikir dengan pola yang sejenis adalah seorang kepala sekolah atau seorang pengelola lembaga pendidikan atau lebih tinggi lagi kepala dinas atau mentri pendidikan kita, waduh……parah dech!

Dan saya mencermati bahwa penyakit “merasa cukup” ini rentan menghinggapi sekolah-sekolah (Islam) unggulan yang sudah cukup “berumur”. Setelah mendapat predikat “trend setter, pelopor, pilot project, atau predikat sebangsanya, bisa menjadikan “nina bobo” bagi sekolah-sekolah tersebut. Ketika kita merasa sudah cukup, sudah baik dan terdepan maka di sinilah potensi muncul mandegnya kreativitas, inovasi dalam kiprah dan kinerja kita. Hal ini juga memicu semakin berkurangnya keberanian untuk mengambil resiko demi menapaki tangga kemajuan berikutnya.

Padahal, ketika kita mau melihat “dunia luar” di jaman globalisasi ini, kita akan semakin sadar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dalam hitungan detik! Inovasi-inoasi dalam dunia pendidikan selalu dan selalu hadir di hadapan kita. Ketika seorang guru mau keluar dari “zona nyamannya” dan mau sedikit melirik perkembangan metode-metode mengajar, filosofi dan inovasi kontemporer dalam duia pembelajaran, maka tak ayal lagi perubahan pola sikap guru dalam usaha mandirinya mengembangkan diri itu akan membawa pengaruh besar pada “dunia proses belajar-mengajar”secara umum. Tiap-tiap kelas akan merasakan hawa segar dalam proses belajar dengan diterapkannya metode-metode variatif yang kreatif dan inovatif disertai pendekatan yang lebih sesuai dengan psikologi anak didiknya. Wal hasil para siswa akan lebih merasa senang belajar dan tentu ini akan berdampak positif pada pencapaian mereka.

Arti penting peran guru ini pernah ditegaskan oleh mantan predsiden Amerika John F. Kennedy ketika menanggapi ketertinggalan Amerika dari Uni Soviet dalam teknologi penerbangan luar angkasanya waktu itu, ia langsung bertanya: “What’s wrong with our classes?”. Dari pertanyaan ini menggeliatlah pedidikan IPTEk Amerika hingga akhirnya di tahun 1969 Amerika sudah bisa mendaratkan para astronotnya di bulan.

Selanjutnya, jika para kepala sekolah dan pengelola lembaga pendidikan mampu untuk lebih “rakus” terhadap kemajuan pendidikan, maka mereka akan lebih bersifat terbuka terhadap perkembangan IPTEk. Ini akan berpengaruh pada kebijakannya dalam menanggapi perkembangan dunia pendidikan di luar lingkup sekolahnya dan tidak segan-segan mengalokasikan waktu dan dana untuk meng up- grade dan memobilisasikan SDM yang ada di lingkungannya menjemput kemajuan tersebut untuk diterapkan di lembaganya. Lebih lanjut mereka akan mampu mendelegasikan dan mengorganisasikan potensi SDM yang ada di lingkungannya dan menempatkan tiap-tiap personal pada keahliannya.

Maka, selayaknya kita harus berusaha untuk bisa menjadi “gelas-gelas” kosong yang mampu mengambil hikmah-pelajaran ilmu yang baru dari lingkungan sekitar kita, meski sekecil apa pun dan mungkin ilmu itu “hanya” dititipkan Alloh melalui rekan sejawat kita sendiri.

Dan perlu kita ingat bersama bahwa kita akan selalu berjalan di tengah masyarakat luas dunia pendidikan yang selalu bergerak dan berpacu untuk menjadi yang terbaik! Jika kita sudah “merasa cukup” dengan apa yang kita miliki sekarang, maka tidak mustahil kita akan ditinggalkan dan hanya akan berjalan terseok-seok mengejar ketertinggalan kita.

Bukankah Rasululloh selalu memacu kita untuk senantiasa menjadi lebih baik dari hari kemarin? Mengambil hikmah di mana pun dan kapan pun sebagai hak seorang Muslim yang terserak? Begitu jugalah dalam dunia pendidikan yang menjadi ladang dakwah kita dewasa ini.

Berubah untuk jadi lebih baik dan maju? SIAPA TAKUT!

Belajar dari “Mbah Tongah”

Mbah Tongah, demikian Beliau biasa dipanggil. Seorang wanita tua berumur tujuh puluhan tahun. Berbadan kecil dan pendek, namun tangan dan kakinya tampak begitu kuat. Maklum, Beliau adalah seorang tukang pijat di belakang rumahku. Beliau tinggal seorang diri di rumah papannya yang sederhana, karena beberapa tahun yang lalu suaminya telah berpulang dan Beliau tidak dikaruniai seorang anak pun!

Namun, dalam kesendiriannya, Beliau tampak tegar dan ikhlas menjalani hidup. Denga memberikan jasa pijat Beliau mampu menyambung hidupnya. Ada beberapa pelajaran yang memaksa saya bermuhasabah melihat sosok wanita “hebat” ini.

Mungkin Anda bertanya,”apa sih hebatnya seorang tukang pijat?”

Setiap pagi antara jam 2 dini hari, beliau sudah mandi dan langsung mengawali harinya dengan melakukan sholat tahajud dan dirangkai dengan wirid-wiridnya hingga saatnya Adzan Shubuh Beliau langsung berlali dengan tubuh mungilnya untuk menuju masjid berjamaah shubuh.

Kemudian, sebelum Beliau berangkat “dinas”, pasti Beliau sempatkan untuk melaksanakan sholat sunnah Dzuha, “Ben, berkah,Nduk!” kata Beliau suatu hari kepada saya. Wuih…sungguh istiqomahnya!

Satu hal lain yang saya harus belajar dari Beliau adalah kebiasaannya berinfaq membagikan masakannya kepada hampir semua tetangga di kanan-kiriku, yang kadang-kadang membuatku sungkan menerimanya!

Lain lagi ceritanya di hari Idul Adha yang lalu, dengan semangat saya bergegas membawakan sebungkus daging korban dari sekolah yang sebelum kuberikan untung sempat kubuka, karena dagingnya cuma sedikit dan lebih banyak tulangnya! Ketika kuberikan bingkisan itu Beliau langsung menghadiahiku semangkung gulai yang masih “kebul-kebu” yang langsung diambil dari panci yang masih di atas kompor, sambil berkata:”Nduk, iki tak wenehi masakanku, aku mau korban!”

Deg!Terhenyak aku mendengarnya, lalu aku bertanya;”Korban,Mbah?”"He..eh!”; jawab Beliau. Kulanjutkan menyelidik;” Regine pinten,Mbah, kambinge?”(berapa harga kambingnya,Mbah?)

“Wolung atus seket ewu!”(delapan ratus limapuluh ribu), kata Beliau!

Subhanalloh,aku terdiam sejenak! Lalu kuucap tasbih dan istighfar. Tasbih karena aku kagum dengan kesungguhan dan keikhlasan Bu Tongah dalam semangatnya berkorban. Bayangkan, berapa puluh kali memijat agar Beliau bisa membeli seekor kambing untuk berkorban? Kurang lebih 80 kali memijat, bila kita perkirakan!

Lalu kubandingkan dengan diriku sendiri! Mengapa aku belum bisa berkorban tahun ini? Padahal kalau aku punya sidqunniyyah, niat yang kokoh, pasti bisa kusisihkan uang untuk berkorban. Yah, masih lebih banyak yang lebih kudahulukan, kebutuhan untuk anak-anakku, untuk inilah, itu lah……..

Di akhir hari Tasyrik ini kembali aku renungkan semangat berkorban Mbah Tongah, seorang tukan pijat, yang darinya kudapatkan mutiara hikmah beramal dengan penuh kesederhanaan, tanpa retorika dan teori ke-Islaman yang panjang! Mungkinkah Beliau akan menjemput surganya…yang semakin tampak dekat di penghujung usia Beliau?

Wallohu a’lam bis showab.

Life

life is so miraculous
life is so amazing
but……sometimes
life is so mysterious
life is so unpredictable
life is so empty and silent…..
life……is full of enjoy but also sadness
life is a kind of sets of trials…..
from God
Alloh the Almighty

Life is Short

Have you watched an advertisement “life is short”?

I have been impressed with that advertisement. It showed a young woman who was about to give a birth in a birthing room surrounded by some doctors and other medical staffs helping them to give birth her baby. The woman was trying hard to take a deep breath helped with a respiration tool…and finally she succeeded in giving birth the baby. What makes me impressed was the next scene of the film that is: the new born baby was showed jumping and flying over the room out of the window and flying over the sky and it grew older became a child, then a boy and then an adult man and an old man…and then finally the old man fell down, crushed into his grave yard! And the advertisement was closed with a very wise utterance :”Life is short. Do more!”

I see the soul of Islamic teaching in this advertisement! Let’s recall some verses in the Holy Quran stating that our life on this earth is short and not eternal.

“Wa maa hayaataddunya illaa mataa’ul ghuruur” Life is nothing but a a kind of faking joy.

“Wal aakhirotu khoiruw wa abqo” And the Akhirat ( eternal life) is much better much more eternal.

“Wal aakhirotu khoirullaka minal uula” And the Akhirat is much better than the previous one!

So. Brothers and Sisters, if we have known that life on the earth now is “small” and “short” what should we do? Alloh, our God says in Quran Surah Al “Ashr that all of men are bankrupt except those who have strict faith and do good deeds and those who always remind others of good things ans suggest them for obedience.

And the essence of this teaching seems to be “summarized” in this advertisement! Well, le’t do our best in everything we do. let Alloh find us as successful servants before Him with our all good deeds we can create! AMIN (my own self contemplation)

daduku

daduku

inilah gambarmu di cermin

inilah gambarmu di cermin

ini kucingku :

ini kucingku :

apik ra,,,?!

apik ra,,,?!

apik ra,,,?!

apik ra,,,?!