ini foto gue, ganteng-khan,,,

ini foto gue, ganteng-khan,,,
no coment,ya ?!

kalender

apakah weblog ini bagus?

Sabtu, 21 Februari 2009

TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa- mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “ApakahTuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.
“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.
“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor.

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?”
Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -46′F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas”.

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak.
Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau
gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.

Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya
kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.

Siapakah sang Mahasiswa? Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

++++++++++++ +++++++++ +++++

Quote: “Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, hidup di tepi jalan dan dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah.” (Abu Bakar Sibli)

SALAM SUPER MARIO TEGUH

Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan
bila anda sedang takut, jangan terlalu takut.
Karena keseimbangan sikap adalah penentu
ketepatan perjalanan kesuksesan anda

Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita
adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba
itulah kita menemukan dan belajar membangun
kesempatan untuk berhasil

Anda hanya dekat dengan mereka yang anda
sukai. Dan seringkali anda menghindari orang
yang tidak tidak anda sukai, padahal dari dialah
Anda akan mengenal sudut pandang yang baru

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi
pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus
belajar, akan menjadi pemilik masa depan

Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi
pencapaian kecemerlangan hidup yang di
idamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa
kesenangan adalah cara gembira menuju
kegagalan

Jangan menolak perubahan hanya karena anda
takut kehilangan yang telah dimiliki, karena
dengannya anda merendahkan nilai yang bisa
anda capai melalui perubahan itu

Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila
anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara
lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila
cara-cara anda baru

Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan.
Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap
anda tepat, dan tidak ada yang bisa menolong
bila sikap anda salah

Orang lanjut usia yang berorientasi pada
kesempatan adalah orang muda yang tidak
pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi
pada keamanan, telah menua sejak muda

Hanya orang takut yang bisa berani, karena
keberanian adalah melakukan sesuatu yang
ditakutinya. Maka, bila merasa takut, anda akan
punya kesempatan untuk bersikap berani

Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan
stress adalah kemampuan memilih pikiran yang
tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang
anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.

Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui
mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan
tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan
yang kemudian anda dapat

Seseorang yang menolak memperbarui cara-cara
kerjanya yang tidak lagi menghasilkan, berlaku
seperti orang yang terus memeras jerami untuk
mendapatkan santan

Bila anda belum menemkan pekerjaan yang sesuai
dengan bakat anda, bakatilah apapun pekerjaan
anda sekarang. Anda akan tampil secemerlang
yang berbakat

Kita lebih menghormati orang miskin yang berani
daripada orang kaya yang penakut. Karena
sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa
depan yang akan mereka capai

Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita
ketahui, kapankah kita akan mendapat
pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum
kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan

Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin.
Dengan mencoba sesuatu yang tidak
mungkin,anda akan bisa mencapai yang terbaik
dari yang mungkin anda capai.

Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup
adalah membiarkan pikiran yang cemerlang
menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang
mendahulukan istirahat sebelum lelah.

Bila anda mencari uang, anda akan dipaksa
mengupayakan pelayanan yang terbaik.
Tetapi jika anda mengutamakan pelayanan yang
baik, maka andalah yang akan dicari uang

Waktu ,mengubah semua hal, kecuali kita. Kita
mungkin menua dengan berjalanannya waktu,
tetapi belum tentu membijak. Kita-lah yang harus
mengubah diri kita sendiri

Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk
melakukan sesuatu yang baik. Jangan menjadi
orang tua yang masih melakukan sesuatu yang
seharusnya dilakukan saat muda.

Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat
berharga. Memilik waktu tidak menjadikan kita
kaya, tetapi menggunakannya dengan baik
adalah sumber dari semua kekayaan

Kamis, 12 Februari 2009

cita-cita, keinginan dan obsesi

“Apa cita-citamu…?” Iseng-iseng saya tanya anak sulung saya.
“Cita-cita…..? Ehm…. Nggak tahu, eh….pilot! Eh…bukan…pemain sepakbola!” jawabnya. Mendengar jawabannya saya tahu bahwa ia asal jawab saja. Bagaimana mungkin ia bercita-cita jadi pilot jika ia tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada profesi tersebut dan keterkaitannya? Ia mungkin menikmati bepergian dengan pesawat dan mengasosiasikannya dengan itu. Bagaimana mungkin pula ia bercita-cita jadi pemain sepakbola jika dalam ekstra-kurikuler di sekolahnya, dengan tubuhnya yang kecil, ia bahkan tidak pernah dipasang untuk bermain. Ia selalu hanya kebagian sebagai ‘anak gawang’ yang tugasnya disuruh-suruh untuk membantu para pemain dalam tim. Saya sering mengoloknya untuk itu meski saya sebenarnya sadar bahwa itu tidak baik bagi self esteemnya. Tapi kadang-kadang saya sulit mengendalikan keinginan jail saya untuk mengolok-ngolok anak saya. Ini mungkin penyakit ‘kampungan’ yang saya bawa sejak kecil dan sulit untuk saya sembuhkan.
Meski demikian nampaknya anak saya sudah ‘kebal’ dan tidak seberapa terpengaruh dengan olok-olok saya. Buktinya ia masih juga bercita-cita jadi pemain bola meski kami sama-sama tahu bahwa itu sekedar asbun alias asal bunyi. Belakangan ia bilang pingin jadi anak band dan ia memulai ‘karir’nya dengan berdandan ala anak band. Paling tidak cita-citanya sudah mulai diwujudkan dengan gayanya dululah! Gaya dulu, kompetensi belakangan.

Beberapa waktu sebelumnya saya memang sudah pernah menanyainya mengenai cita-cita ini dan jawabannya juga sama yaitu ‘tidak tahu’ dan belum terpikirkan’. Jawabannya tersebut membuat saya ‘gumun’ alias heran. Kok ya sama dengan saya dulu, tidak punya cita-cita dan selalu glagapan kalau ditanya soal cita-cita! ‘Emangnya semua orang harus punya cita-cita?’ Demikian pikir saya waktu itu. ‘Apa ndak ‘kemelipen’ (terlalu tinggi) kalau saya punya cita-cita? Lha wong makan sehari-hari saja susah kok mikir tentang cita-cita mau jadi dokter, guru, insinyur, tentara, dll’. (kalau yang terakhir saya emoh-emoh tenanan. Jadi tentara itu ‘out of question’ bagi saya).
‘Cita-cita itu kan ‘mainan’nya orang-orang kaya. Orang miskin kayak saya itu mbok ya yang realistis alias sadar diri gitu lho!’ Demikian pikir saya waktu itu. Dan sekarang ternyata anak saya juga tidak punya cita-cita. Kok bisa ya? Padahal sekarang kan bapaknya ini sudah jadi ‘orang’ dan mau makan berapa kali pun tidak masalah. Tapi kok anak saya cita-cita juga belum punya! Belum berhakkah kami untuk sekedar punya cita-cita? Ihik!

Bukannya saya tidak punya keinginan menjadi ‘apa’ pada waktu kecil dulu. Tapi keinginan saya menjadi ‘apa’ dulu itu bergantung pada situasi dan kondisi. Kalau saya sedang baca buku-bukunya Karl May maka cita-cita saya ya jadi Winnetou atau menggantikannya menjadi ketua suku Apache. Paling tidak ya suku Sioux lah! (‘Sioux’ itu bacanya ‘sou’ dan bukan ‘siok’. Kalau ‘Siok’ itu nama tetangga saya yang keturunan Cina). Kalau saat itu yang saya baca adalah seri pengembaraannya di Timur Tengah maka saya ingin jadi Effendi sambil membayangkan nikmatnya naik unta di tengah terik matahari di padang pasir. Jadi cita-cita saya bisa jadi Deni si Manusia Ikan, Tarzan si Raja Rimba, Suma Han si Pendekar Super Sakti, Marcopolo si pengelana dunia, sampai jadi ketua partai Kaypang. Sesekali saya bercita-cita jadi Umar bin Chattab, Zatoichi, atau Shalahuddin Al Ayyubi. Jadi cita-cita saya itu menjadi ‘siapa’ dan bukan ‘apa’.

Suatu ketika ayah saya pernah bercerita pada ibu saya bahwa ia pernah ditawari untuk menjadi ini dan itu di kantornya tapi beliau menolak. Adik saya yang waktu itu masih kecil betul dan kebetulan mendengar ini langsung saja nyletuk, :”Kenapa Bapak nggak milih jadi Superman saja? Kan enak Pak bisa terbang kesana kemari dan nggak mati-mati.” Saya yang mendengarnya tentu saja tertawa ngakak. ‘Apa enaknya jadi Superman?’, pikir saya. ‘Pakai celana dalam saja keliru dipakai di luar’. Itulah sebabnya anak-anak sebaiknya tidak boleh ada di dekat orang tua kalau mereka sedang ngomong serius. Mereka suka nyletuk tanpa juntrungan.

Ketika di SMA saya mulai punya cita-cita beneran. Karena keseringan membaca buku-buku tentang petualangan saya jadi terobsesi untuk bertualang kesana kemari. Jadi saya berpikir alangkah enaknya kalau saya jadi wartawan. Dengan jadi wartawan saya akan pergi kemana-mana untuk meliput berita dan menyampaikannya pada pembaca saya. Saya paling suka membaca kolom petulangannya Pak Tanzil (kalau tidak salah) dengan istrinya yang jago masak di Intisari di berbagai belahan dunia dan berkhayal bisa melakukan hal yang sama. Wartawan juga nampak hebat di mata saya karena mereka berhasil membongkar fakta-fakta yang tidak nampak oleh orang kebanyakan. Mungkin saya terinspirasi oleh Bob Woodward yang berhasil membongkar “Watergate” itu.

Tapi saya juga pingin menjadi guide karena saya suka belajar bahasa Inggris dan dengan jadi guide tentunya bahasa Inggris saya akan terasah. Kan wisatawan asing kebanyakan menggunakan bahasa asing. Lagipula jadi guide tentu menyenangkan karena bisa melancong kemana-mana. Pokoknya tidak jauh dari itu lah!

Belakangan saya mulai tertarik untuk menjadi psikolog karena saya suka memperhatikan bagaimana manusia bertindak dan berprilaku. Saya ingin tahu apa yang melatarbelakangi seseorang melakukan apa yang ia kerjakan dan bagaimana mereka membangun persepsi atas sesuatu. Tapi ya itu, kalau ditanya saya tetap tidak bisa menjawab dengan jelas apa sebenarnya cita-cita saya.
Jadi guru? Bah! Tidak sama sekali terlintas di benak saya untuk menjadi guru meski sebenarnya kedua orang tua saya sebelumnya berprofesi jadi guru cukup lama. Soalnya tak satupun guru sekolah yang mampu memberi kesan yang mendalam pada saya. Satu-satunya guru yang saya anggap hebat adalah gurunya Helen Keller dan sampai sekarang masih tetap membuat saya terkagum-kagum. Orang kok bisa begitu sabar menghadapi murid yang cacat macam Helen Keller dan mampu membuatnya menjadi begitu hebat. Tapi karena saya tahu bahwa saya tidak (akan) punya kesabaran dan keahlian seperti itu maka profesi guru tidak pernah masuk dalam angan-angan saya.

Kalau kemudian saya menjadi guru maka itu sungguh merupakan ‘kecelakaan’. Saya jadi ingat Katherine Schulten yang menulis buku “Tak Sengaja Menjadi Guru” dan merasa melihat diri saya sendiri membaca alasannya mengapa ia tak ingin menjadi guru. Saya sendiri tidak pernah berminat untuk menjadi guru meski pada akhirnya menikmati profesi tersebut.

Setelah menjadi guru saya bercita-cita bisa menjadi guru yang baik. Saya tahu tak mudah menjadi guru yang baik. Kalau jadi guru yang brengsek dan tidak bertanggung jawab mudah saja karena mudah ditemui di mana-mana.
Saya tidak tahu apakah saya berhasil menjadi guru yang baik atau tidak karena tidak ada penilaian untuk itu. Kalau berdasarkan penilaian untuk kenaikan pangkat sih kayaknya begitu tapi semua guru nampaknya memperoleh penilaian baik karena tak ada kepala sekolah yang benar-benar menggunakan format penilaian tersebut untuk menilai baik tidaknya seseorang menjadi guru atau tidak. Yang penting adalah loyalitas. Kalau nggak loyal ya bisa terhambat karier kita. Dan saya mengalaminya pada tahun 80-an ketika diminta (dipaksa ding!) untuk menjadi anggota Golkar dan saya menolak.
Bukan apa, saya hanya ingin menjadi seorang guru yang baik dan guru yang baik semestinya tidak berpihak pada partai politik tertentu. Ia harus netral dan tidak berpihak. Ia bukan mengabdi pada pemerintah tapi pada negara. Begitu berdasarkan apa yang saya baca di buku-buku. Susahnya, bos-bos saya di Depdiknas waktu itu tidak bisa membedakan antara ‘pemerintah’ dan ‘negara’! Bagi mereka negara itu identik dengan pemerntah. Yo wislah!
Tapi itu mungkin karena saya yang kelewat naif dan punya bakat pemberontak macam Kahar Muzakkar. Kata atasan saya di Depdikbud Golkar itu bukan partai (tapi golongan!) dan saya termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih. Makan diberi Golkar tapi tidak mau loyal, katanya. Mana mau saya terima argumentasi begitu. Maka saya pun bertengkar dengan banyak orang sampai ke Dinas Pendidikan Propinsi. Karena saya tetap bersikeras tidak ingin masuk Golkar saya akhirnya di’non-edukatif’kan dan ditempatkan di kecamatan sebagai staf dikcam tanpa tugas apalagi posisi. Karir saya di PNS dilipat gara-gara bercita-cita jadi guru yang baik. Ihik..! Tapi saya merasa seperti Napoleon Bonaparte yang dikucilkan ke pulau Elba. Hahaha….!
Tapi itu tidak menyurutkan cita-cita saya untuk menjadi guru yang baik. Tanpa jadi PNS saya tetap bisa jadi guru yang baik, pikir saya. Dan saya pun jadi ‘ronin’
Dengan mengajar di berbagai tempat dan mendirikan bimbingan belajar di Surabaya. Bimbingan belajar tersebut bahkan pernah memiliki cabang di lima kota di Jatim. Saya berusaha untuk menjadi guru yang baik bagi siswa-siswa saya dengan berusaha menjadi teman dan mentor bagi mereka. Kalau ciri guru yang baik itu ditandai dengan akrabnya siswa kepada gurunya maka mungkin saya bisa masuk nominasi karena rumah saya tidak pernah sepi dari kedatangan mereka. Selalu saja ada siswa yang datang ke rumah untuk bertemu atau benar-benar untuk curhat.

Apakah saya sudah berhasil mencapai cita-cita saya? Nehi! Bimbingan belajar tidak memuaskan saya karena saya anggap sebagai ‘pseudo-education’ lha wong cuma melatih siswa untuk menyiasati soal-soal tes masuk kok.
Ketika ada lowongan untuk menjadi guru di sekolah internasional di Bontang saya dengan cepat melamar dan berangkat ke Jakarta untuk ikut test. Ini suatu petulangan baru bagi saya. Cita-cita saya untuk bisa memperbaiki bahasa Inggris saya dengan kumpul langsung sama native speaker akan dapat kesampaian kalau ngajar di international school. Sejak pertama mendaftar saya sudah yakin betul bahwa saya akan diterima dan akan tinggal di Bontang.

Ketika mengajar di Bontang International School saya sempat keliling ke beberapa daerah di tanah air dan merasa bersyukur bahwa cita-cita saya untuk bertualang di Nusantara dapat kesampaian. Saya juga bergaul dengan orang asing dan memperoleh keuntungan dalam bahasa karenanya. Satu demi satu cita-cita saya kesampaian.
Sebenarnya pada awal mengajar saya sempat stress karena perbedaan sistem pendidikan pada sekolah asing dan sempat shock gara-gara siswa saya dengan santainya bilang,:”Booooring…!” ketika saya mengajar. Edhian! Selama ini saya merasa sebagai guru yang baik dan selalu disukai oleh siswa-siswa saya, eh! lha kok disini saya di’sio-sio’ begini sama anak-anak bule ini, demikian pikir saya. Ternyata memang tidak mudah mengajar di sekolah internasional karena sistemnya memang berbeda dengan pengetahuan dan pengalaman saya selama ini.
Saya habis-habisan belajar dan mengubah metoda pengajaran saya dan setelah bertahun-tahun belajar dan bekerja keras pada akhirnya saya berhasil dianggap sebagai guru favorit oleh mereka. Saya tahu ketika hasil akreditasi langsung dari WASC Amerika disampaikan. Resepnya, pokoknya tiap hari siswa saya ajak bermain lha wong mereka nggak mau kalau diajar dengan pendekatan tradisional. Saking manjanya mereka sering minta saya gendong dan peluk. Maklum, murid saya rata-rata Pre-K dan elementary.

Tapi di sekolah internasional inilah yang membuat mata saya melek. Ternyata sistem pendidikan nasional kita sangat jauuuuuh ketinggalan dengan apa yang dilakukan di sekolah-sekolah international. Apa yang kita lakukan di sekolah-sekolah kita sungguh sangat konvensional dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh sekolah-sekolah di luar negeri. Setiap tahun kami dikirim untuk mengikuti konferensi guru tingkat internasional bersama dengan guru-guru dari berbagai negara. Semakin lama semakin sadar saya bahwa Indonesia memang sangat ketinggalan di bidang pendidikan dibandingkan dengan negara-negara lain, meski untuk tingkat ASEAN.
Ini seperti hantaman di kepala saya.

Pendidikan kita rasanya konvensional betul dan CBSA (Catat Buku Sampai Abis) merupakan praktek yang ‘legal’ dan bahkan paling favorit di sekolah-sekolah kita. Bagaimana mungkin kita bisa mengejar ketertinggalan pendidikan kita dengan pola tradisional seperti ini? Saya merasa bahwa saya harus melakukan sesuatu dan dorongan itu semakin lama semakin kuat.
Akhirnya saya putuskan untuk keluar dari sekolah internasional dan membuka sekolah sendiri. Saya bercita-cita untuk membuat sebuah sekolah yang modern dan mendekati praktek sekolah-sekolah internasional yang pernah saya lihat.

Itu sepuluh tahun yang lalu.

Apakah saya berhasil mencapai cita-cita saya? Tidak, eh, belum ding! Masih jauh dari harapan. Meski sekolah saya berkembang mulai dari SMP sampai perti tapi cita-cita untuk memiliki sekolah yang berkualitas macam sekolah internasional rasanya masih sangat jauuuuuuhh. Banyak hal yang membuat saya tidak bisa mencapai cita-cita tersebut tapi kelemahan terbesar, menurut saya, adalah karena rendahnya kualitas guru yang ada. Guru yang hebat yang jumlahnya memang sangat sedikit sudah dipakai di sekolah-sekolah swasta mahal dan sekolah saya yang sejak awal memang dirancang untuk membantu kalangan menengah bawah tidak mampu membayar mereka.
Kenapa tidak melatih sendiri? Saya tidak punya cukup kapasitas untuk itu. Rendahnya kualitas guru adalah masalah nasional dan untuk menyelesaikannya juga harus berskala nasional. Itu bukan pekerjaan satu dua orang tapi harus merupakan kerja banyak pihak. Harus ada upaya nyata untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru secara nasional.

Jadi saya mendirikan Klub Guru Indonesia.

Klub Guru berkembang pesat dan disambut dengan antusias dimana-mana. Asumsi saya bahwa setiap orang sebetulnya perduli pada masalah pendidikan terbukti. Tak ada pihak yang menolak ketika diajak untuk membantu atau bekerjasama dengan Klub Guru. Semua ingin melakukan sesuatu bagi guru dan bagi pendidikan. Pendidikan adalah harapan terbesar bagi hampir semua orang. Story goes on…!

Cita-cita saya berhenti disitu?
Ternyata Klub Guru justru baru merupakan awal!

Rendahnya minat baca bangsa Indonesia dan berbagai masalah yang mengikutinya telah lama saya ketahui dan fakta ini semakin hari semakin membuat saya seperti duduk di atas bara api. Semua statistik seperti memusuhi Indonesia. Beberapa hari yang lalu kolom Tajuk di Kompas menulis betapa dalam penerbitan buku kita bahkan kalah dengan Vietnam yang baru merdeka tersebut. Vietnam yang penduduknya cuma 80 jutaan ternyata mampu menerbitkan sekitar 15.000 judul buku sedangkan Indonesia yang penduduknya berjumlah 230 juta hanya mampu menerbitkan sekitar 8.000 judul! Pukulan apalagi yang kita butuhkan untuk membangunkan kita? Kita harus melakukan sesuatu! Tidak ada gunanya cuma mengomel.
Jadi saya ajak semua pihak untuk melakukan sebuah gerakan untuk membuat bangsa Indonesia memiliki minat dan budaya baca. Kami namakan gerakan tersebut GERAKAN INDONESIA MEMBACA. Gerakan ini harus menjadi gerakan yang menasional, melibatkan semua orang dan berjangka panjang. Saya ingin mengetuk pintu semua orang untuk mengajak mereka MEMBACA… MEMBACA… dan MEMBACA…!
Sekarang gerakan ini bukan lagi keinginan tapi telah menjadi OBSESI saya. Kalau mau tahu rasanya terobsesi adalah jika kita menginginkan sesuatu sebegitu dan itu kita pikirkan sejak kita membuka mata di pagi hari sampai kita memejamkan mata malam harinya. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Pikiran kita penuh dengan apa yang kita inginkan tersebut. Itu namanya TEROBSESI.

Jadi jika suatu hari ada orang yang mengetuk pintu Anda dan mengajak Anda untuk membaca (atau untuk menyumbang.buku bagi anak-anak di desa terpencil agar mereka bisa membaca buku bacaan gratis ) maka itu mungkin saya (atau orang yang bergabung dalam gerakan ini). Jangan sampai Anda bilang tidak punya uang untuk menyumbang. Anda akan mengecewakan jutaan anak yang tidak mampu memiliki buku bacaan untuk dibaca. Mereka adalah anak-anak kita juga.

Satria Dharma
Balikpapan, 6 Februari 2009

Kamis, 05 Februari 2009

Jejek Sepatu Karet

Jejak Sepatu di Karpet

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih dan bersih dan teratur, suami serta anak2nya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:

‘Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan’

Ibu itu kemudian menutup matanya.

‘Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?’ Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; ‘Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi’.

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

‘Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu meli hat jejak sepatu & kotoran disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu’.

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

‘Sekarang bukalah mata ibu’ Ibu itu membuka matanya ‘Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?’ Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. ‘Aku tahu maksud anda’ ujar sang ibu, ‘Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif’.

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’ sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;

1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain

2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe.

3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan

4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi

5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman

6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan

7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras

8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat

9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup

10. Untuk setiap permasalahan hidup yang saya hadapi, karena itu artinya Tuhan sedang membentuk dan menempa saya untuk menjadi lebih baik lagi

Bahaya Penggunaan Mouse Optik...?!

Mouse optic, mungkin sudah banyak pengguna computer yang sudah menggunakan benda kecil ini. Namun, tahukah Anda bahwa mouse optic dapat memberikan efek samping kepada penggunanya?
Ketika menggunakan mouse optic, pengguna tentunya lebih merasa nyaman ketimbang menggunakan shortcut dari keyboard langsung. Namun, kenyamanan dari mouse optic juga membawa efek samping yang bisa membahayakan pengguna. Kira-kira semenjak tiga tahun setelah dirilisnya mouse optic pertama oleh Microsoft, telah ditemukan bahwa terdapat ribuan kasus kelainan pada jaringan tangan akibat radiasi yang dipancarkan mouse optic. Mouse optic bekerja dengan memancarkan gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi ke permukaan di bawahnya. Frekuensi yang digunakan lebih tinggi daripada handphone.

Mungkin sudah banyak pengguna yang mengetahui, bahwa telapak tangan dan kaki merupakan pusat ujung-ujung syaraf tubuh. Oleh karena itu, radiasi dari mouse bisa dirasakan di telapak tangan dan dapat mempengaruhi kesehatan pengguna. Menurut pengamatan dari badan kesehatan dunia, WHO, radiasi dari mouse setara 5 kali
radiasi handphone, dan akan lebih berbahaya jika mouse optic dipegang terus-menerus oleh pengguna computer.
Untuk product mouse optic berkualitas rendah, pengaruh radiasi elektromagnetik akan lebih terasa. Hal ini dikarenakan untuk product yang bagus telah menggunakan pelindung (shield) di mouse optic guna melindungi pergelangan tangan. Oleh karena adanya bahaya yang cukup mengkhawatirkan ini, perusahaan besar seperti WHO, GreenPeace, dan CNN sudah menghentikan penggunaan optical mouse untuk seluruh kegiatan di kantornya. Sementara untuk Microsoft dan IBM telah saling bekerja sama untuk pembuatan pointer device yang lebih aman, dengan dana sekitar $2 miliar.
Untuk itu, pengguna dapat mulai membiasakan menggunakan mouse hanya saat diperlukan, dan mungkin dapat lebih berlatih menggunakan shortcut keyboard, seperti “Ctrl-V” untuk paste, dan sebagainya.

Beberapa ilmuwan di Kolombia telah menemukan fosil monster prasejarah yang diduga sebagai ular terbesar di dunia yang pernah hidup di bumi. Ular yang diberi nama Titanoboa cerrejonensis itu diperkirakan memiliki berat lebih dari 1 ton dan panjang hingga hampir 14 meter.

Beberapa ilmuwan yakin ular ini hidup di bumi sekitar 58 juta hingga 60 juta tahun lalu. Ahli geologi, David Polly, yang memperkirakan ukuran dan bobot Titanoboa berdasarkan posisi fosilnya.

"Ukuran ular itu sungguh besar sekali. Namun, tim peneliti masih memikirkan seberapa besar panas bumi dibutuhkan untuk menghangatkan tubuh ular sebesar itu."

Fosil Titanoboa ditemukan oleh tim ilmuwan internasional di sebuah tambang batu bara di wilayah tropis Cerrejon, Kolombia. "Ular yang sangat besar ini benar-benar mengundang imajinasi, tetapi fakta yang ada telah melampaui fantasi yang ada di Hollywood sekalipun," kata ahli paleontologi, Jonathan Bloch, yang juga terlibat dalam ekspedisi.

"Ular yang mencoba mencaplok Jennifer Lopez di film Anaconda tidak sebesar ular yang kami temukan," kata Bloch. Berdasarkan ukuran ular itu, Bloch menjelaskan, tim ilmuwan dapat menghitung temperatur tahunan rata-rata di garis khatulistiwa Amerika Selatan 60 juta tahun lalu mencapai sekitar 33 derajat celcius, sekitar 10 derajat lebih hangat dibandingkan saat ini.

"Ekosistem tropis Amerika Latin saat ini berbeda jauh dibandingkan 60 juta tahun lalu," kata Bloch. "Kondisi hutan tropisnya hampir sama dengan saat ini, tetapi temperaturnya lebih panas saat itu dan dipenuhi dengan reptil berdarah dingin yang lebih besar."

Menurut Nature.com, ular adalah jenis hewan poikilotherms (berdarah dingin) yang memerlukan panas dari lingkungan mereka merayap untuk membangkitkan metabolisme. Oleh karena itu, ilmuwan memperkirakan ular raksasa itu hidup di ekosistem tropis Amerika Selatan dengan temperatur yang saat itu tidak berada di bawah 30 hingga 34 derajat celcius.

Sebagian besar populasi ular saat ini terdapat di wilayah tropis Amerika Selatan dan Asia Tenggara. Temperatur di Amerika Selatan dan Asia tenggara memungkinkan hewan ini berkembang hingga mencapai ukuran besar.

SMA 1 Cepiring Menuju Sekolah Katagori Mandiri (SKM)

Assalamualaikum wr. wb.

Bersama dengan beberapa sekolah lain di Kabupaten kendal, yaitu, SMA Kaliwungu, SMA 2 Kendal, dan SMA Sukorejo, SMA 1 Cepiring mencoba mengikuti jejak SMA 1 Boja dan SMA 1 Weleri yang sebelumnya telah mendapatkan dana pengelolaan SKM untuk dapat melaksanakan progam pemerintah dibidang pengembangan sekolah ini.

Dilihat dari listing 8 Standart Pendidikan Nasional yang menjadi dasar pengelolaan SKM maka dapat dipastikan tugas ini adalah beban berat sekaligus tantangan yang harus dapat ditanggapi dengan positif oleh semua komponen sekolah dari semua lini (tobe continued)

daduku

daduku

inilah gambarmu di cermin

inilah gambarmu di cermin

ini kucingku :

ini kucingku :

apik ra,,,?!

apik ra,,,?!

apik ra,,,?!

apik ra,,,?!